PUSKUD UNICEF ADMIN ANEKA ILMU E-DUKASI JARDIKNAS

Sekapur Sirih

Para pengunjung blog yang budiman, masa waktu dua belas bulan dalam tahun 2008 usai sudah telah kita lewati. Tak terasa, kini kita telah memasuki masa waktu yang baru di tahun 2009. Jika kita merenungi masa pada tahun 2008, maka nampak dalam benak kita suatu pertanyaan, prestasi apa yang telah kita capai pada saat itu? idealnya, tentu pertanyaan itu akan timbul kembali pada benak kita, apa pula prestasi yang akan kita raih pada tahun 2009 ini?

Sungguh pertanyaan-pertanyaan itu mengandung nilai-nilai motivasi. Adalah suatu nilai-nilai yang tersirat didalamnya menuju pada sebuah kata kunci “perubahan“. Perubahan ini kita konotasikan dengan kemajuan dalam alam lingkungan kehidupan. Dengan demikian, sasaran akhirnya adalah bagaimana mengisi trend kondisi dinamika yang lagi berkembang. Ini berarti merangsang kita untuk menciptakan suatu gebrakan “selangkah lebih maju“ dalam fenomena kehidupan ini.

Itulah yang mengilhami cara dan gaya berpikir PUSKAPLING dan SDN 1 Tilote yang ada di Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo. Pada tahun ini, tepatnya pada tanggan 12 bulan Januari 2009, PUSKAPLING bersama SDN 1 Tilote telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), tentang Kerja Sama Penerapan Dan Pengembangan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK).

Semangat dan itikad kedua belah pihak ini, membuktikan, bahwa wujud keberadaan PUSKAPLING adalah sebuah cermin LSM yang tidak hanya mahir dalam memainkan kritik terhadap kebijakan yang ada. Namun dihadapan pemerintah, posisi PUSKAPLING disamping sebagai lembaga sosial kontrol kebijakan Pemerintah, sekaligus menjadi bentuk keterwakilan peran masyarakat.

Bentuk keterwakilan itu, adalah suatu keterwakilan yang memiliki kemampuan peran dalam memberikan sentuhan konsep berpikir untuk maju dan berkembang. Dengan demikian, eksistensi PUSKAPLING tidak hanya menjadi lembaga sosial kontrol semata, melainkan sebagai mitra Pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia.

Oleh karena itu, konsep berpikir ini, jelas merupakan relevansi dari sikap menuju suatu perubahan selangkah lebih maju. Yaitu suatu sikap pembentuk prilaku yang respect terhadap trend kondisi dinamika teknologi, informasi, dan komunikasi yang lagi berkembang. Inilah yang mewarnai semangat cara dan gaya berpikir pihak manajemen SDN 1 Tilote.

Manajemen SDN 1 Tilote dalam menyikapi trend kondisi dinamika teknologi, informasi, dan komunikasi yang lagi berkembang itu, telah membuka diri terhadap kehadiran PUSKAPLING. Kehadiran PUSKAPLING bagi SDN 1 Tilote, dipercayakan dan diharapkan dapat menggenjot sumber daya manusia dari para anak didiknya, khususnya dibidang penguasaan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK).

Memperhatikan konsep berpikir dari PUSKAPLING dan prilaku manajemen SDN 1 Tilote yag senantiasa membuka diri itu, dapat disimpulkan inilah model kemitraan yang diharapkan dalam pendidikan. Karena hal itu merupakan nafas dari implementasi Pasal 8, 9, dan 10 sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.


SADIK GANI, SE

Information and Communication Technologi

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), begitulah terjemahan dari INFORMATION and COMMUNICATION TECHNOLOGI (ICT). Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah deretan tiga suku kata yang saat ini lagi akrab dibibir orang, khususnya di lingkungan pendidikan atau kelompok birokrasi, bahkan belakangan ini, juga termasuk golongan-golongan masyarakat tertentu.

Memahami Teknologi informasi dan komunikasi, tidak hanya menyandarkan pada pengertian tiga suku kata di atas. Tetapi lebih dari itu harus dipahami lebih dalam, mengapa tiga suku kata itu harus dipadu menyadi satu kalimat yang tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran TIK. Itu mengartikan, bahwa tiga kata dasar itu, masing-masing memiliki nilai kekuatan dan pengaruh tersendiri dalam peradaban kehidupan manusia.

Sebagai bukti yang logis dari kekuatan-kekuatan itu, yakni disadari atau tidak, bahwa aktivitas yang sedang berlangsung dilakukan manusia saat ini, pada hakikatnya adalah mengelola informasi yang diterima sebelumnya. Disadari atau tidak pula, bahwa keberadaan informasi itu sendiri lahir karena adanya komunikasi. Demikian pula terhadap komunikasi, itu dapat terjadi karena tidak lepas dari media (teknologi) sebagai alat pengantar maksud dan tujuan.

Beranjak dari pengertian-pengertian di atas, maka ICT atau TIK yang menjadi medan garapan ilmu pengetahuan dari ICT CLINIC di SDN 1 Tilote adalah; Teknologi Informasi dan Komunikasi, BUKAN “Informasi Komunikasi dan Teknologi“. Hal ini cukup beralasan, karena informasi komunikasi dan teknologi, pengertiannya adalah informasi tentang komunikasi dan informasi tentang teknologi. Dengan demikian informasi komunikasi dan teknologi, hanyalah terbatas pada pengetahuan saja, dan bukan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sifat dari informasi komunikasi dan teknologi, mudah ditemui atau diperoleh, hanya dengan cukup nonton televisi, dengar radio, maupun baca koran saja.

Sedangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah identik dengan ilmu pengetahuan. Yaitu teknologi tentang informasi dan teknologi tentang komunikasi. Karena itu pula, teknologi informasi dan komunikasi tidak terbatas pada pengetahuan saja, tetapi justru berada pada level garapan sebuah studi “ilmu pengetahuan”. Dengan sendirinya, untuk menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi, tidak semudah kita nonton televisi, dengar radio, ataupun baca koran. Melainkan diperoleh hanya melalui teori dan praktek pendidikan tertentu saja.

Pada unsur kata Teknologi, Informasi, Komunikasi inilah, mengapa ICT Clinic harus dihadirkan ditengah-tengah para anak didik sekolah yang ada di SDN 1 Tilote. Dengan TIK ini, para anak didik akan diarahkan pada pengenalan, penguasaan, dan pembentukan peradaban teknologi yang berbudaya.

Pengenalan, penguasaan, dan pembentukan peradaban teknologi pada tingkat anak didik ini, dimaksudkan karena alasan dinamika dunia pendidikan dan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menuju pada suatu jenjang peradaban dunia pendidikan dan kehidupan yang lebih baik, ICT SDN 1 Tilote telah memiliki TAKTIK. Artinya; Tidak Ada Kehidupan yang baik (peradaban), tanpa menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Muhajirin AHM

Sabtu, 07 Februari 2009

POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI KELAS

POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PENINGKATAN MUTU PEMBELAJARAN DI KELAS

Oleh: Prof. Dr. H. Mohamad Surya*

Teknologi komunikasi dan informasi dalam pendidikan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.

Satu bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.

Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan dalam tema "Asia in the New Millenium" yang memberikan gambaran berbagai kecenderungan perkembangan yang akan terjadi di Asia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dsb. termasuk di dalamnya pengaruh revolusi internet dalam berbagai dimensi kehidupan. Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul "Rebooting:The Mind Starts at School". Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.

Dalam tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan tetapi berupa: (1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara, (2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator, dsb. (3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV, (4) alat-alat musik, (5) alat olah raga, dan (6) bingkisan untuk makan siang. Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.

Meskipun teknologi informasi komunikasi dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.

Pergeseran pandangan tentang pembelajaran

Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memilikio pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencaqpai standar akademik. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam pandangan tradisional di masa lalu (dan masih ada pada masa sekarang), proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat, (2) upoaya mengisi kekurangan siswa, (3) satu proses transfer dan penerimaan informasi, (4) proses individual atau soliter, (5) kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi, (6) suatu proses linear. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami, (2) proses sosial, (3) proses aktif dan pasif, (4) proses linear dan atau tidak linear, (5) proses yang berlangsung integratif dan kontekstual, (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kulktur siswa, (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.

Hal itu telah menguban peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah berubah dari: (1) sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, akhli materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar; (2) dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran, (2) dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan, (3) dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain.

Lingkungan pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada guru telah bergesar menjadi berpusat pada siswa. Secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut:

Lingkungan

Berpusat pada guru

Berpusat pada siswa

Aktivitas kelas

Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis

Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif

Peran guru

Menyampaikan fakta-fakta, guru sebagai akhli

Kolaboratif, kadang-kadang siswa sebagai akhli

Penekanan pengajaran

Mengingat fakta-fakta

Hubungan antara informasi dan temuan

Konsep pengetahuan

Akumujlasi fakta secara kuantitas

Transformasi fakta-fakta

Penampilan keberhasilan

Penilaian acuan norma

Kuantitas pemahaman , penilaian acuan patokan

Penilaian

Soal-soal pilihan berganda

Protofolio, pemecahan masalah, dan penampilan

Penggunaan teknologi

Latihan dan praktek

Komunikasi, akses, kolaborasi, ekspresi

Kreativitas dan kemandirian belajar

Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas, jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi, akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan mengembangkan semua potensi yang dimilikinya..

Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan. Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain: pertama, kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya, kedua, kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, ketiga, kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup, dan keempat, kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dari segi kognitifnya, kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai dengan motivasi yang kuat, rasa ingin tahu, tertarik dengan tugas majemuk, berani menghadapi resiko, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, memiliki rasa humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang lain, dsb. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas, memiliki nilai, dapat ditransformasikan, dan dapat dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal.

Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.

Peran guru

Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping itu, guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping sebagai pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar. Sebagai pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.

--------------

*) Guru Besar UPI Bandung/Ketua Umum PB PGRI/Anggota DPD-RI

Makalah dalam Seminar ”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”, diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas, tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta.

ANTARA GURU DAN ABAD TEKNOLOGI INFORMASI-KOMUNIKASI

Artikel

Judul: ANTARA GURU DAN ABAD TEKNOLOGI INFORMASI-KOMUNIKASI
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENGEMBANGAN TIK.
Nama & E-mail (Penulis): Dr. Deni Darmawan, S.Pd.,M.Si
Saya Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia
Topik: GURU DAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Tanggal: 1 Juni 2008

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang secara tidak langsung telah banyak mempengaruhi dunia pendidikan dan pembelajaran di negara ini. Boleh kita lihat guru-guru kita misalnya yang harus dengan cepat mengupdate pengetahuan dan keterampilannya alih-alih kompetensinya dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Upaya guru-guru kita ternyata tidak bisa dengan mudah begitu saja menguasai bidang TIK ini, banyak kendala mulai dari faktor usia, dukungan sarana peralatan, kesempatan dan dukungan kebijakan dari atasan, hingga ketersediaan infrastruktur di sekolah yang tidak sederhana dan dengan mudah bisa disesuaikan.

Kesiapan, ketersediaan , kebiasaan dan keterpaksaan seakan menjadi sebuah gunung es yang sulit untuk dicairkan hanya karena oleh bekal kreativitas, semangat dan motivasi serta keberanian yang dimiliki oleh para guru. Bahkan guru-guru yang sudah menunjukkan kekearyaannyapun ternyata mereka masih membutuhkan dukungan kebebasan berkarya, finansial, dan manajemen kebijakan yang adaptif. Kondisi ini bisa penulis rasakan tak kala seorang guru masih kesulitan dalam memperoleh dukungan manajemen dan finansialnya terhadap hasil jerih payahnya yang telah diraih selama ini. Fakta ini bisa dilihat dari 19 orang guru yang mewakili jenjang SD, SMP dan SMA yang mengikuti lomba "Inovasi Media Pembelajaran" yang baru-baru ini telah dilaksanakan di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Barat dapat dijadi cermin bagaimana pihak manajemen, para pengelola, dan para pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan kurang begitu gencar dalam memnfasilitasi karya dan inovasi guru-guru terpilih ini.

Terlebih dari 10 guru yang mengikuti Lomba Inovasi Media Pembelajaran pad ajenjang SMA misalnya, ternyata masih terlihat aspek keragu-raguan dari para guru pilihan ini untuk mampu memaksimalkan karya-karyanya. Penulis bangga dengan LPMP yang telah berusaha memfasilitasi dan memberikan jalur bagaimana guru-guru pilihan ini mampu menunjukkan dna mengaktualisasikan tingkat kreativitasnya. Dari kegiatan tersebut penulis lihat banyak potensi lokal yang mampu mencapai target Nasional bahkan Internasional. Namun semuanya itu tidak akan terlepas dari faktor dukungan manajemen dan tata kelola pendidikan oleh para stakeholder dan penggerak sistem pendidikan di Negara ini. Sebagaimana jika penulis telaah dalam bidnag Teknologi Informasi dan Komunikasi. Dari 10 orang guru SMA yang mengikuti perlombaan ini hanya 3-4 orang yang sudah memberaikan diri masuk dan menguasai bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi ini. Namun demikian kondisi dan tingkat kualitasnya maish bisa dikalahkan oleh karya-kraya inovasi yang murni berangkat dari kejauhan dan sentuhan dunia Teknologi Informasi ini. Dengan demikian guru-guru pilihan yang mencoba menunjukkan kreativitasnya dalam bidang TIK harus puas dengan peringkat di bawah juara ke-3.

Dari pengalaman tersebut maka dapat ditarik sebuah lesson learnt, bahwa ternyata selama ini kita hanya gembar-gembor akan semaraknya inovasi dan adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalma dunia pendidikan dan pembelajaran. Tapi ternyata kita tidak bisa kompak seirama dan saling mendukung siapa dan pihak mana yang harus mendukung siapa dan melakukan inovasi apa dalam dunia TIK. Inilah persoalan yang harus segera dicairkan, artinya semua pihak harus kembali duduk bersama dan membahas kembali serta menanamkan kerangka pikira yang jelas bagi semua pihak mengenai apa, bagaimana TIK serta seperti apakah TIK yang cocok untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan bagi bangsa ini. Padahal jika penulis amati yang waktu itu bertindak sebagai evaluator, maka sangat banyak potensi yang dimiliki guru-guru pilihan ini terhadap upaya menguasai TIK dalam melakukan inovasi pembelajarannya. Kenyataan ini harus menjadi pekerjaan rumah bersama.

Kiat memahami dan memaknai TIK

Jika seorang guru kita tanya mengenai Teknologi, maka seakan hal itu menjadi suatu hal yang antik dan tidak familier dengan keseharaiannya sebagai seorang pendidik sejati. Maka disinilah letak locus masalah titik temu antara dunia pendidikan dengan dunia TIK jika dilihat dari kacamata pendidik. Setidaknya jika penulis amati ternyata ada suatu bentuk jurang pemisah antar zaman. Maksudnya antar zaman adalah masa kejayaan wwaktu berpikir dan belajar guru-guru kita dengan masa munculnya abad teknologi informasi dan komunikasi ini. Padahal jika kita coba uraikan dan sederhanakan strategi pemahaman dan pemaknaannya tentang teknologi ini ternyata hasilnya cukup banyak guru-guru kita dengan usia 50 tahunan yang tersenyum bangga dan yakin akan kemampuan untuk menguasai abad teknologi informasi dan komunikasi ini. Penulis yakin jika semua guru pada semua jenjang telah tersentuh oleh pendekatan dalam memahami TIK yang dimaksud maka inovasi pendidikan yang berbasis kreativitas guru-guru berteknologi ini akan menjadi lebih bisa diwujudkan secara merata dan ringan.

"Teknologi"

Untuk memahami dan memaknai sebuah TIK dengan mudah ini, penulis ilustrasikan dalam pernyataan bahwa Teknologi bisa dipandang dari 3 sudut pandang, yaitu sudut pandang Teknologi sebagai Ide, Teknologi sebagai Proses-rancangan bangun ide dan aktivitas, serta Teknologi sebagai Produk atau hasil. Kecepatan berpikir kita yang selama ini selalu langsung memahami dan memikirkan kata-kata teknologi yaitu dengan cara langsung melihat produk atau langsung memandang teknologi sebagai hasil rancang bangun (enginering). Dan ini biasanya bagi pihak tertentu cuku menyesakkkan, atau seseorang mungkin mengucapkan guyonannya " canggih" = 'can kapanggih ' ( belum ketemu cara dan pemahamannya). Fenomena seperti inilah yang banyak dijumpai dan dirasakan oleh siapa saja jika melihat dan memandang serta memahami "Teknologi" hanya sebagia produk.

Terlebih di kalangan guru yang tinggal dan bertugas serta berasal dari daerah yang jauh dari perkotaan, maka tentunya pandangan terhadap teknologi sebagai produk seolah akan terlalu tinggi. Padahal sudut pandang terhadap Teknologi ini diharapkan mulai dari sudut pandang Teknologi sebagai Ide, artinya semua guru pasti sudah berteknologi atau melakukan proses kegiatan tertentu yang akna menghasilkan sebuah teknologi, atau menggunakan produk hasil teknologi. Sebagai ilustrasi misalnya ketika seorang guru akan mengajarkan pokok bahasan Bangun Datar dan guru tersebut harus mendemonstrasikan bagaimana membuat sebuah lingkaran dengan menggunakan sebuah jangka , tiba-tiba jangkanya tidak ada di kelas, dan skeolah tidak memilikinya.

Kemudian guru tersebut berpikir dan mulai mewujudkan ide pikirnya tersebut untuk membuat sebuah jangka. Selanjutnya sang guru pergi mencari sebuah ranting atau dahan pohon jambu yang bercabang (cagak), dan dipotonglah dahan bercabang ini, kemudian ia mengikatkan cabang dahan pertama dengan sebuah paku dan cabang dahan yang satunya ia ikatkan dengan sepotong kapur, kemudian ia gunakan dan praktekan untuk membuat sebuah lingkaran. Akhirnya hasil gambar yang dibuat dengan jangka dari ranting tersebut hasilnya sama bulat jika dibuat dengan menggunakan jangka yang banyak dijual di pasaran.

Jika ditelaah dari ilustrasi ini, maka guru tesebut telah menunjukkan dan memanfaatan hasil pemahaman terhadap apa itu "Teknologi". Pemahaman guru tersebut bukan hanya sekedar aspek kognitifnya, tetapi juga sudah pada tataran psikomotor atau prakteknya. Jadi secera utuh "Teknologi" yang dimaksud telah dikuasai oleh guru mulai dari Teknologi sebagai ide, teknologi sebagai proses dan akhirnys Teknologi sebagai hasil rancang bangun dari ide pikiran dan proses guru tersebut membuat jangka dari ranting bambu tersebut.

"Informasi"

Ketika guru menyampaikan bahan pembelajaran kepada siswanya, maka disitu terdapat sejumlah informasi yang ia kemas, olah dan akhirnya disampaikan kepada siswa. Setelah informasi tersebut sampai pada diri siswa dan siswa merasa mengerti akan informasi yang disampaikan oleh guru tersebut. Maka pada tahapan inilah pada dasarnya guru harus menyadai bahwa dirinya adalah seorang manajer terhadap proses pengelolaan informasi pelajaran yang setiap harinya ia lakukan sehingga begitu banyak informasi yang diolah guru maka informasi tersebut akan semakin mudah ditata dan dimengerti oleh para siswanya.

Jika dikaitkan dengan upaya memahami "Teknologi Informasi dan Komunikasi", maka ketika guru banyak mengelola informasi inilah pada dasarnya bahwa guru sudah berada pada pemahaman kata kedua dari istilah TIK ini, yaitu kata "Informasi". Dengan demikian guru pada dasarnya pihak yang selalu dituntut untuk kreatif dana mencari, mengelola, mendasain pengelolaan dan penyampaian informasi tersebut. Maka guru di sini sebetulnya secara tida langsung telah mampu menguasai dunia Teknologi dan Informasi.

"Komunikasi"

Ketika guru menyampaikan informasi yang sudah ia olah sedemikian rupa, misalnay disampaikan dengan kepandaiannya berbicara dengan sistematis, jelas, tegas dan benar maka informasi dapat dengan mudah sampai kepada diri siswa. Sebagai misal guru menggunakan alat batu atau media pembelajaran dengan menggunakan papan tulis, poster, gambar, dan media lainnya, kemudian terjadi proses interaksi yang hangat antara ia dengan siswanya ytang diakhiri dengan perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa, maka sudah dapat dikatakan bahwa guru tersebut sudah sukses melakukan proses komunikasi dalam pembelajarannya tersebut.

Apakah guru masih asing dengan kata "Komunikasi" ini?, tentunya jika melihat penjelasan di atas maka sebenarnya guru adalah pihak yang paling aktif dalam melakukan proses komunikasi dengan tujuan dan target yang ketat. Di mana setiap jam, setiap hari, setiap minggu selalu ada target proses komunikasi (mengajar) seperti apa yang paling efektif sehingga siswanya bisa mengerti mengenai apa yang ia komunikasikan.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan Pemahaman dan Pemaknaan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi, maka guru ini adalah pihak yang sudah secara lengkap menguasai, memahami dan memaknai bahwakan telah sukses mengimplementasinyakannya dalam tugas sehari-hari. Inilah fenomena yang harus banyak digali, khususnya pada tataran kesadaran guru atau pihak yang selalu membawa misi inovasi dalam dunia Tkenologi Informasi dan Komunikasi. Secara mendalam jika dianalisis maka fenomena seorang guru yang setiap hari mengajar pada dasarnya ia telah menjadi seorang Maestri dalam dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Kabar Gembira

Penulis yakin jika guru kembali melakaukan perenungan dan melakuka review terhadap apa yang biasa ia lakukan setiap harinya dalam melaksanakan tugas sebagai seorang penidikan, khususnya jika dikaitkan dengan kata-kata kunci dari konsep Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), maka kita semua akan dapat menyimpulkannya sendiri. Sebagai penegasan bahwa dunia TIK adalah dunia guru maka tidak perlu khawatir ataupun was-was, cemas dna grogi ketiak seorang guru ditanya atau diajak diskusi oleh pihak lain mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jadi jawabannya bahwa guru adalah pelaku aktif dan pelatak dasar bangunan kokoh bagi dirinya dan siswanya untuk mampu menguasai dunia Teknlogi Informasi dan Komunikasi secara lebih praktis dan mendalam di kemudian hari.

Saya Dr. Deni Darmawan, S.Pd.,M.Si setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di http://e-majalah.com dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa

Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.

Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik.
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

3. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

5. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

Isu-isu Terkini Guru dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi

I. PENDAHULUHAN


A. Latar Belakang Masalah
Kini teknnologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Walaupun pada umumnya berada pada tataran konsumen atau pemakai, namun keadaannya masih kalah jauh dari negara-negara tetangga, tetapi Indonesia tidak luput dari pengaruh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa jenjang sekolah, khususnya pada tingkat sekolah menengah atas (SLTA) dan sekolah menengah pertama (SLTP) dan sederajat, termasuk juga sebagian kecil sekolah dasar, kini para siswa telah diberi sebuah mata pelajaran yang berhubugan dengan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga diharapkan para siswa setidaknya sudah tidak asing dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, dan kalah pentingnya adalah guru dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain.

Kini beberapa sekolah telah menerapkan pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, Internet dan lainnya) untuk menyampaikan isi materi yang diajarkan. Komputer, internet, intranet, satelit, tape/video, TV interaktif dan CD ROM adalah bagian media elektronik yang dimaksudkan dalam kategori ini. Komponen yang tak kalah penting dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran adalah para guru yang mengajar pada sekolah dalam berbagai jenjang.

Guru yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses pembelajaran di sekolah sebenarnya memerlukan berbagai piranti dalam mengoptimalkan pemanfaatan TIK dan Komunikasi in untuk mendukung kemampunnya yang diperlukan khususnya dalam operasional perangkat TIK tersebut. Berbagai hasil penelitian menunjukkan kini masih banyak guru yang masih gagap dalam pemakian komputer dalam mengakses informasi dan pemanfaatannya dalam proses pembelajaran.

Perkembangan TIK dewasa ini ibarat embun dipagi hari, sering dalam tidur lelap kita tidak menyadari bahwa keesokan paginya telah ditemukan penemuan baru yang sangat penting bagi sejarah manusia. Lagi-lagi kita hanya mengiyakan penemuan itu tanpa harus berupaya menguasainya, lebih parah jika hanya cukup dengan keadaan yang ada tanpa adanya usaha apapun dalam merespon perkem-bangan ini.

Keharusan guru dalam mendorong dan mendukung siswa kearah kreatif pemanfaatan TIK mutlak dilaksanakan. Untuk itu peranan guru sangat dibutuhkan demi keseimbangan penguasaan dan pengemasan informasi yang bakal dihadapkan dan disajikan kepada siswanya. Karena ada kemungkinanan siswa telah memahami lebih jauh satu persoalan dari pada gurunya. Berangkat dari hal tersebut nampaknya kita harus ingat sebuah pesan Nabi Muhammad SAW ”ajarilah anak-anakmu sesuai dengan jamannya dan bukan jaman mu”.

Kondisi guru yang sebagaian besar masih belum optimal, bahkan masih banyak yang belum dapat memanfaatkan kemajuan TIK atau dengan perkataan lain masih gagap, kondisi ini perlu dicari penyebabnya dan solusi yang terbaik, khususnya bagi para penentu kebijakan pendidikan. Tulisan ini akan menggali dari berbagai artikel, hasil penelitian, pengakuan, berita, makalah, pandangan dan berbagai ide yang diambil dan diolah atau dianalisa yang bersunber dari informasi yang diambil dari internet. Data sekunder atau berbagai data dan informasi dari internet tersebut hasil tulisan dari berbagai website dari berbagai kota diseluruh Indonesia, dan jumlah sampel kurang lebih 40 (empat puluh) tulisan.

Hasil analisa dalam tulisan ini diharapkan dapat mendapat gambaran yang jelas sehingga diperoleh pemahaman yang benar mengenai kondisi guru kaitannya dalam pemamfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan juga dalam kegiatan lain yang meliputi: (1) sarana-prasarana, fasilitas, dan perangkat; (2) kebijakan pimpinan sekolah dan pimpinan lembaga terkait; (3) kemampuan dan kecakapan dalam pemanfaatan TIK; (4) pendidikan dan pelatihan, kursus yang telah dimiliki guru; dan (5) berbagai kendala yang dialami para guru dalam pemanfaatan TIK. Para penentu kebijakan pendidikan seharusnya sangat berkepentingan atas berbagai informasi tentang kondisi guru dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain, mengingat otoritas yang dimiliknya dapat mengubah kondisi yang baik menjadi kondisi yang lebih baik. Sementara guru dengan informasi ini dapat menempatkan dan mengkondisikan dirinya sesegera mungkin untuk beradaptasi, paling tidak mengubah sikap dan perilaku untuk berkembang ke arah yang lebih baik.

B. Rumusan Masalah
Berbagai masalah yang ada pada latar bekang di atas, penulis akan merumuskan masalah yang akan dibahas dalam tulisan adalah:
1. Sejauh mana ketersediaan sarana dan prarana, fasilitas, dan perangkat dalam mendukung pemanfaatan TIK bagi guru?
2. Seberapa tinggi tingkat penguasan dan kecakapan guru dalam penggunaan atau pemanfaatan TIK bagi guru?
3. Kebijakan dan upaya apa saja yang telah dilakukan oleh pimpinan sekolah dan pimpinan instansi terkait dalam penentukan kebijakan untuk mendukung pe-manfaatan TIK bagi guru?
4. Pendidikan dan pelatihan apa saja yang telah dilakukan guru dalam meningkat-kan kemampuan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran?
5. Faktor-faktor apa yang menjadi kendala guru dalam pemanfaatan TIK?

II. PEMBAHASAN


Membicarakan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh para guru dalam proses pembelajaran di sekolah tidak lepas dari berbagai unsur yang saling terkait sata sama lain, yaitu; 1) sarana, prasarana, dan perangkat yang tersedia; 2) tingkat penguasaan guru dalam pemanfaatan TIK; 3) kebijakan pimpinan dalam mendukung pemanfaatan TIK; 4) pendidikan dan pelatihan para guru; dan 5) kendala-kendala guru dalam penggunaan TIK. Kelima unsur yang terkait ini diuraikan per bagian dengan maksud nantinya diperoleh penjelasan, dan pada akhirnya diharapkan diperoleh pemahaman yang benar.

A. Sarana dan prasarana, falitas, dan perangkat pendukung pemanfaatan TIK
Beberapa sekolah kini telah telah memiliki laboratiorium komputer dan internet, khusus sekolah-sekolah yang berlokasi di kota atau tidak jauh dari perkotaan lebih lengkap fasilitas ini dibandingkan dengan sekolah yang berlokasi di pedesaan. Hampir seluruh kota dijumpai sekolah-sekolah yang telah menyediakan fasilitas laboratorium komputer dan internet. Namun dalam pemanfaatan TIK oleh para guru antara sekolah yang satu dengan yang lain tingkatannya sangat beragam, mulai dari yang sederhana sampai ada yang sudah optimal. Kondisi ini dapat dimengerti mengingat tingkat kemajuan sekolah masing-masing berbeda. Contoh konkrit seperti pada SMP Negeri 8 Palembang, dimana fasilitas komputer dan internet telah ada sejak tahun 2006 dan sudah melaksanakan praktek TIK bagi guru dan siswanya sebanyak 360 orang, namun pemanfaatan TIK bagi siswa masih sebatas pada mata pelajaran TIK, dan guru belum memanfaatan TIK dalam proses pengajaran mata pelajaran yang lain. Berbeda dengan sekolah yang ada di Jakarta, SD Negeri 3 Menteng telah menggunakan TIK dalam pembelajaran Sains dan Matematika. Banyak kasus lain tentang keberagaman tingkat pemakaian dan pemanfaatan TIK ini.

Dari data yang ditemukan diperoleh suatu kondisi dimana ada hal ironis dibeberapa daerah tentang fasilitas TIK ini, seperti kondisi yang ada pada Kecamatan Percut Sei Tuan, Medan. Di kecamatan ini ada sekolah dengan lokasi dimana di sana ada BTS (Base Transceiver Station) operator telekomunikasi berdiri megah di areal sekolahan, sementara guru dan siswa yang beraktivitas di sama sekali belum menggunakan atau memanfaatkan kemajuan TIK dalam proses pembelajaran maupun aktivitas lain oleh guru, dan dapat dikatakan para guru masih gagap teknologi (gaptek).

Kasus lain yang menarik di mana dalam suatu daerah masih ada pihak-pihak yang dalam menjalankan bisnisnya tidak begitu proaktif terhadap kemajuan dalam pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan. Seperti kasus yang terjadi di kawasan Deli Serdang, di sana masih ditemui perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh para penjual komputer, salah satunya adalah dengan menjual komputer dengan harga yang terlalu tinggi dan diluar harga kewajaran. Bayangkan ada supplier yang menjual komputer berbasis pentium III dengan harga lima juta rupiah lebih, padahal harga komputer tersebut selayaknya tidak akan lebih dari dua juta lima ratus ribu rupiah. Bisa jadi para suplier ini dalam berbisnis hanya mempertimbang-kan keuntungan belaka, tanpa adanya rasa kepedulian atas kemajuan pemanfaatan TIK di daerah tersebut.

Berkaitan dengan pengembangan sarana dan prasarna untuk pemanfaatan Tik dalam dunia pendidikan dan kegiatan lain di sekolah, ada juga sebuah departemen yang kurang dalam hal perhatian, seperti yang di sampaikan oleh DH. Al Yusni anggota komisi VIII DPRRI yang melakukan kunjungan di Sulsel. Beliau mengatakan kini Departemen Agama dinilai hanya sigap menyikapi masalah haji, sementara menyangkut pengembangan madrasah terkesan sebelah mata, menurutnya ini sebagai tindakan diskriminatif. Dicontohkan oleh beliau, di Sidrap Sulawesi Selatan, guru-guru madrasah terkesan masih gagap menggunakan komputer, ini akibat minimnya perhatian dari Depag, termasuk kesejahteraan para guru madrasah. Ditambahkan oleh Al Yusni, Depag lebih perhatian pada masalah haji, daripada masalah pendidikan di bawah naungannya, mungkin karena masalah haji lebih banyak mengurusi uangnya.

Lain halnya dengan Depdiknas, dimana departemen yang berkepentingan langusung dengan dunia pendidikan ini telah dan akan mengadakan gebrakan yang berkaitan dengan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran di sekolah dalam berbagai jenjang pendidikan. Depdiknas tahuan 2008 ini akan mengembangkan Jejaring Pendidikan Nasional. Contoh riil yang telah ada dalam hal ini adalah seperti sarana yang telah ditempatkan di Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samusir. Di sana jaringan internet selain dipakai untuk kebutuhan dinas, jaringan internet juga dibagi-bagi ke beberapa SMP, SMK, dan SMA lewat antena. Bandwidth dari Depdiknas internet ditempatkan di salah satu sekolah sebagai pengelola teknis, dan sekolah tersebut kemudian membaginya ke sekolah lain.

Pada sekolah-sekolah yang telah dibilang lebih maju, dan kebanyakan berlokasi di kawasan perkoataan, selain tersedianya laboratorium komputer dan internet, beberapa sekolah telah melenkapinya sarana lain yang berkaitan dengan proses pembeljaran, yaitu berbagai media elektronik lainnya. Seperti pada kondisi di SMAN 11 Kota Jambi, perangkat untuk pembelajaran kini juga lebih maju, telah tersedia perangkat modern seperti proyektor LCD yang dilengkapi laptop, ada pengeras suara di masing-masing kelas yang kesemuanya dikontrol oleh operator. Di sekolah ini pada setiap jam istirahat diperdengarkan lagu-lagu lewat speaker, dengan cara ini kejenuhan siswa setelah belajar bisa hilang.

Walaupun Depag ada yang mengatakan kurang dalam memberikan perhatian dalam pengembangan sarana TIK di madrasah-madrasah, tetapi di beberapa madrasah di Jawa Timur kondisi sekolah yang telah tersedia sarana komputer dan internet dibilang telah lebih maju. Di beberapa madrasah di Jatim diketahui bahwa jumlah package computer (PC) yang dimiliki di masing-masing madrasah cukup banyak, jumlanya berkisar antara 10 hingga 20 unit.

Ketersediaan sarana TIK sangat berpengaruh kepada guru dalam hal memilih varian sumber pembelajaran yang dipilih. Seperti yang dikemukakan oleh Mohammad Juri, MPd. (Madura, 14 Januari 200 8)yang mengatakan ketidak variativan guru dalam memilih sumber belajar, diantaranya disebabkan oleh minimnya pengetahuaan dan kemampuan menggunakan media pembelajaran yang maju seperti penggunaan komputer. Seperti alasan-alasan yang umum disampaikan oleh para guru, misalnya tidak ada fasilitas komputer di sekolah, fasilitas yang tidak lengkap dikarenakan tidak dana untuk pengadaan, dan terlebih-lebih sikap guru yang kurang pro aktif dalam menghadapi kemajuan ICT.

Peran pengusana swasta dan BUMN sangat penting dalam mendukung dan memberikan suport dalam dunia pendidikan kaitannya dengan pengembangan TIK dalam dunia pendidikan. Contoh konkrit dunia bisnis yang peduli terhadap kemajuan pendidikan adalah seperti yang dinyatakan oleh Dekan FKIP UNRI Riau Drs. Isjoni, MSi, menyatakan ada salah satu perusahaan (PT Chevron Pasifik Indonesia) telah memberikan bantuan 15 unit komputer yang dilengkapi fasilitas internet ke instansinya untuk pelatihan para guru di Riau, khususnya guru yang masih menenpuh kuliah di UNRI. Menurutnya semua guru diharapkan bisa belajar mengembangkan diri untuk menguasai teknologi, jangan sampai terjadi gagap teknologi, jangan sampai murid yang yang mengajari guru guru membuka internet.

B. Penguasaan Pemakaian Dalam Pemanfaatan TIK Bagi Guru
Dalam berbagai hasil penelitian dan tulisan mensinyalir ada sekitar 70 s/d 90% guru dalam pemanfaatan kemajuan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lain dianggap masih gagap teknologi. Jika kondisi ini benar demikian, alangkah menyedihkan dan bahkan menyakitkan, betapa tidak, sebab di tengah didengungkannya pembelajaran interaktif (e-learning) yang juga harus melibatkan guru-gurunya dalam bidang studi apapun, alangkah ironis kalau gurunya sendiri tidak pernah sedikitpun menjamah teknologi informasi yang kini telah merambah kesemua sisi kehidupan manusia atau dengan kata lain sudah mendunia.

Berbagai pernyataan para pejabat yang berwenang dalam dunia pendidikan menyatakan kondisi guru yang masih memprihatinkan dalam hal menggunakan komputer, apalagi internet. Seperti yang dinyatakan oleh Manuntun Sagala dari Dinas Pendidikan Kabupaten Toba Samosir, guru kini banyak yang tidak fasih menggunakan komputer, apalagi internet. Para guru menggunakan komputer sekedar untuk mengetik dengan MS Word itupun tidak paham semua fasilitas di program itu, apalagi mendengar Email, Browsing web, dan lainnya guru merasa asing.
Kondisi guru yang gagap TIK tidak hanya didominasi oleh para guru di luar pulau Jawa, seperti yang ditemukan di kasus Jawa Timur, di sana sebagian besar guru-guru yang mengajar di madrasah sangat sedikit yang memanfaakan komputer apalagi internet. Pada umumnya guru baru mampu menggunakan komputer hanya sebatas keperluan administrasi baik kepentingan kantor maupun kepentingan penyusunan PAK (Penetapan Angka Kredit) dalam kaitannya dengan kenaikan pangkat jabatan fungsional guru. Di Jatim ebagian besar guru belum terbiasa menggunaan internet baik untuk proses pembelajaran maupun kegiatan sosial lainnya.

Beberapa pakar TIK menyatakan bahwa sebenarnya manusia, termasuk guru mempunyai potensi kecakapan dalam hal penggunaan komputer dan internet dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran dan kegiatan lainnya. Salah pakar tersebut menyatakan tersebut adalah Ersis Wirmansyah Abbas dari UNLAM, Banjarmasin, mengatakan bahwa kita oleh Alloh SWT batok kepala manusia berisi satu milyar sel saraf (neuron), setiap neuron aktif bisa berkoneksi dua puluh ribu, jadi orang (termasuk guru) jangan lagi self-image bodoh, karena pada hakekatnya kita semua adalah born to be a genius. Ini yang menggambarkan betapa guru-guru merasa kurang pede dalam penggunaan dan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran maupun dalan kehidupan sosialnya. Ini dapat dimaklumi banyak guru masih gagap TIK dimungkinankan karena sudah tua, dan merasa sudah tidak perlu lagi belajar yang canggih, kadang bahkan menyerahkan hal ini kepada pada guru yang masih yunior. Ini mengingatkan kepada para instruktur pelatihan komputer dan TIK bagi para guru dalam penyampaiannya harus lebih pada praktek daripada teori.

PR IV UNNES Semarang, Prof. Fathur Rohkman mengatakan sekitar 60 % guru SD, SMP dan SMA belum familiar dengan komputer, terutama pendidika yang ada di pelosok dan pedesaan. Menurutnya dari pelatihan guru yang pernah diselenggarakan di UNNES, masih banyak guru yang belum tahu menggunakan mouse, padahal hampir semua kegiatan saat ini tidak bisa lepas dari komputer termasuk di bidang pendidikan. Dalam kesempatan yang sama Dr. Supriadi Rustad, PR I UNNES mengatakan, Indonesia baru sampai level applying menuju transforming, karena ICT masih dijadikan sebagai mata pelajaran dengan dimasukkannya ke dalam kurikulum sekolah. Masyarakat dikatakan pada levev integrating bila ICT untuk proses pembelajaran, sementara level transforming biada ICT untuk transformasi pendidikan.

Bagian yang sedikit dalam prosentase yang sudah maju dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran memang telah ada di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan dan lainnya. Seperti yang ada pada salah satu di SD di Jakarta yaitu tepatnya di SDN Menteng 3, dimana setiap hari Rabu, murid 4A mendapat jatah untuk belajar di ruang laptop. Selama murid belajar dengan menggunakan laptop, proses belajar menjadi sangat efektif, tidak perlu mencatat materi pelajaran dari papan tulis, karena sudah tersistem pada laptop masing-masing. Murid tidak bosan, dan merasa senang karena banyak gambar menarik khususnya pelajaran sains. Setelah belajar Metematika dan IPA, boleh main game, buka internet dan kirim email. Game di sini masih ada hubungannnya dengan pelajaran.

Menurut pengakuan adari salah satu guru di SDN Menteng 3, Harry Pujianto mengaku mengajar dengan menggunakan laptop sangat menantang, menimbulkan rasa ingin tahu, dapat membedakan keberhasilan pembelajaran menggunakan laptop dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan cara konvesional. Murid lebih menyukai pelajaran Matematika dan IPA. Kondisi ini sangat berlainan pada kondisi umumnya dimana siswa biasanya merasa takut dan tidak pede terhadap mata pelajaran yang berbau eksakta, atau pelajaran yang melibatkan hitung-menghitung, dan juga mata pelajaran yang menggunakan praktek dalam laboratorium seperti pembelajaran sains.

C. Kebijakan dan Upaya Pimpinan dalam Mendukung Pemanfaatan TIK
Kadang sebuah penghargaan maupun sertifikai bukan merupakan tujuan yang akan dicapai oleh sebuah lembaga sekolahan, tetapi penghargaan maupun sertifikai yang diterima dapat menjadi pendorong atau motivasi dalam pemanfaatan TIK oleh para guru, disamping sebagai kebanggaan akan identitas sebuah sekolah yang mempunyai keunggulan dalam berkompetitif dalam dunia pendidikan. Beberapa institusi atau lembaga baik provit maupun nonprovit dirasa perlu memberikan berbagai penghargaan stratafikasi untuk mendorong dan memacu sekolah untuk terus mengembangkan potensinya, khususnya dalam hal pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran yang melibatkan para guru yang terlibat langsung. Dilapangan ditemukan perusaan bisnis BUMN telah memberikan berbagai sertifikai yaitu PT Telkom, seperti yang terjadi pada sekolah yang telah berhasil dalam prestasi khusus, sekolah tersebut telah mendapatkan sertifikai, seperti SMP Negeri 8 Palembang sebagai sekolah bebas buta internet.

Peran pimpinan atau kepala sekolah sangat penting dalam memajukan sekolah, khususnya penguasaan para guru dalam pemanfaatan TIK. Pimpinan yang tidak sigap dalam adaptasi dengan perkembangan teknologi dapat mengakibatkan kebijakan yang menjadikan guru gagap teknologi, padahal ini bisa jadi mengakibatkan hilangnya daya tarik dalam proses belajar. Terlebih dalam era informasi ini, tanpa adanya kemauan untuk mengerti, menggunakan, dan mengakses bidang yang relevan dengan keilmuannya maka fungsi guru sebagai fasilitator perkembangan ilmu akan tereduksi yang lama-lama bisa jadi hilang, sehingga yang ada hanyalah guru yang miskin informasi.

Para kepala sekolah yang mempunyai komitmen terhadap kemajuan sekolahnya pasti melakukan langkah-langkah konkrit dalam memajukan guru dalam pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Di sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan lebih mudah dikembangkan daripada di pedesaan yang saran dan prasaranya kadang belum lengkap atau tersedia. Di SMAN 11 Kota Jambi misalnya, kepala sekolah dalam menerapkan dan menyambut serbuan beragam teknologi informasi, adalah dengan membekali para guru dengan kursus komputer dan internet, tidak hanya guru yang mengajar di labaratorium komputer saja yang harus mengerti perangakat tersebut, tetapi guru-guru bidang lain harus mengikuti. Kondisi ini diyakini berlaku pada sekolah-sekolah lain di tanah air ini.

Kebijakan yang kita acungi jempol adalah kepada Depdiknas, dimana departemen ini akan mempercepat pengadaan sarana TIK pada berbagai jenjang sekolah dengan akan meluncurkan anggaran 1 triliun pada tahun 2008 ini, gebrakan ini dilakukan dengan membangun berbagai pusat sumber atau resource center di sekolah-sekolah. Kebijakan Depdiknas ini seperti yang diungkap oleh Lilik Gani dari staff Depdiknas. Kita akan menunggu realisasi dari kebijakan ini, jika benar adanya harapan akan tanda-tanda keseriusan pemerintah memajukan dunia pendidikan akan terwujud, khususnya bidang TIK di dalam dunia pendidikan.

Beberapa sekolah sebenarnya telah proaktif dalam menyiapkan sarana, dengan kebijakan tertentu, sekolah dapat meluncurkan program maupun memulai aksi nyata. Seperti kini beberapa sekolah di kota Solo, mulai dan telah melaunching sarana laboratorium komputer multimedia untuk menyongsong era TIK dalam pendidikan dan telah menyiapan guru-gurunya dalam penggunaan atau pemanfaatannya pada pembelajaran, dan pada akhirnya akan menentukan program ini akan berjalan baik atau tidak.

Gebrakan kebijakan tidak cukup hanya pada tingkat dinas pendidikan, tetapi para kepala daerah baik itu gubernur ataupun bupati atau walikota harus mau dan sanggup mengeluarkan kebijakan yang signifikan dalam mamajukan dunia pendidikan khususnya dalam pemanfaatan TIK ini. Seperti pada pemda Tanah Datar, Sumbar, telah meluncurukan programnya yaitu untuk melengkapi fasilitas komputer di sekolah-sekolah, maka dilaksanakan program One School One Computer Laboratorium (OSOL) satu sekolah satu laboratorium komputer. Melalui progam ini diharapkan guru maupun siswa tidak gagap teknologi, khususnya dalam penguasaan ketrampilan komputer sebagai ciri kemajuan suatu masyarakat.
Kebijakan pemerintah juga dipertegas oleh Menko kesra, beliau mengatakan bahwa pemerintah pada tahuan ini akan mengalokasikan dana dari APBN sebesar 2 triliun untuk program satu komputer bagi 20 siswa di tingkat SMP dan SMA di seluruh Indonesia. Menurutnya sampai saat ini untuk murid SMA baru 1 banding 1000, ini belum komputer yang dapat dimanfaatkan oleh para guru.

Menurut Ari Kristianawati (Sinarharapan, 29 April 2008), para guru tidak hanya gagap dalam beradaptasi denagan kemajuan ilmu pengetahuan, mereka juga terjebak dalam kebiasaan menjadi robot kurikulum pendidikan, sehingga prakarsa dan inisiatif para guru untuk belajar menggali metode, bahanajar dan pola relasi belajar mengajar yang baru sangat minimalis. Rendahnya mutu atau kapabilitas guru di Indonesia, disebabkan pertama, faktor strutural, selama orba guru dijadikan bemper politik Golkar, agen pemenangan melalui Korpri dan PGRI. Kedua, kuatnya politik pendidikan, mengontrol arah dan sistem pendidikan membaut apara guru seperti root yang dipenjara melalui tugas-tugas kedinasan yang stagnan. Ketiga, rendahnya tingkat kesejahteraan guru, ini membuat mereka tidak bisa optimal dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, dan selalu mengurusi keluarga.

Dra. Rosmawati, MPd, Kepala SMPN 2 Dumai, menyatakan di institusinya telah dikembangkan rintisan Sekolah Bertaraf Interasional (SBI) dengan menerapkan program bilingual dalam praktek belajar mengajar di sekolah. Khusus untuk guru mata pelajaran sains dan matematika, pemberian materi dengan menggunakan bahasa inggris, disamping itu guru diwajibkan menguasai pemanfaatan ITC.

D. Pendidikan, Pelatihan, Praktek Pemanfaatan TIK
Kebutuhan akan kemampuan para guru dalam pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran telah direspon sangat positif oleh beberapa sekolah. Kenyataan dilapangan ditemukan bahwa beberapa sekolah telah memberikan pelatihan dan atau mengirikan para guru menginkuti pelatihan komputer dan internet. Ini dilakukan oleh pimpinan sekolah dengan maksud agar para guru tidak gagap terhadap pemakaian komputer dalam pemanfaatan TIK. Seperti yang telah terjadi dan dilakukan oleh SMP Negeri 8 Palembang, tidak hanya guru pemegang mata pelajaran TIK yang dikirim mengikuti pendidikan pemanfaatan TIK, tetapi semua guru mata pelajaran juga dikirim untuk mengikuti pendidikan maupun pelatihan atau kursus.

Walaupun fasilitas internet sudah ada, guru-guru telah dikirim untuk mengikuti pelatihan dan kursus komputer dan internet, namun dilapangan ditemukan adanya kendala. Misalnya saja di beberapa sekolah di Kabupaten Toba Samosir, guru tidak dapat mengoptimalkan pemakaiannya, mengingat tidak adanya staf TI khusus yang ahli, sehingga berbagai kelemahan dalam penggunaan sarana TI oleh guru tidak ada sumber untuk bertanya. Ada kasus yang dirasa lucu, dimana guru menyuruh siswa ke warnet untuk belajar email, dan setelah siswa tersebut dapat menggunakannya, guru belajar pada muridnya.

Peran lembaga atau institusi dilura sekolah juga sangat diperlukan dalam andilnya dalam memajukan dunia pendikan dasar dan menengah. Mereka yang peduli telah turut aktif memberikan kemampuan para guru dalam menggunakan komputer maupun internet, seperti pada Jurusan Teknik Informatika FTI-ITS Surabaya telah mengadakan workshop pemrograman bagi 53 guru dari 12 madrasah dari 3 kota di Jatim. Menurut pemrakarsa kegiatan ini, ke depan para guru madrasah di Jatim tidak gagap teknologi lagi, karena mereka telah dilatih untuk mengaplikasikan piranti lunak (software) pembelajaran berbasis multimedia yang diharapkan dapat membantu mengembangkan pola pembelajaran bagi siswanya.

Tidak ketinggalan apa yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Merauke Papua, daerah paling timur wilayah Indoneisa ini telah mengadakan petihan komputer bagi guru-guru dan PNS walaupun materi masih dalam taraf tingakat dasar. Materi yang disajikan adalah mengenai aplikasi perkantorlan (word, excel, powerpoint, dan internet). Ini menunjukkan bahwa sebenarnya greget dari berbagai penentuk kebijakan di daerah dalam memajukan pendidikan dengan cara memajukan guru dalam kemampuan pemanfaatanTIK cukup baik.

Tidak hanya pelatihan praktis dan teknis dalam menndorong guru mau memanfaakan TIK yang ada dalam pembelajaran, tetapi kegiatan yang sifatnya mendorong dan memotivasi guru juga perlu diadakan secara terus menerus. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jatim misalnya, lembaga ini telah mengadakan workshop Penelitian Tindakan Kelas bagi 150 guru di kabupaten Pasuruan, Jatim. Workshop ini dimaksudkan agar semangat para guru untuk menulis dan membaca lebih terpacu, semangat itulah yang akan otomatis mendorong guru bersinggungan dengan pemanfaatan TI, tukasnya.

Peran perguruan tinggi sebagai gudangnya para pakar dan ahli sudah selayaknya peduli atas usaha kemajua diinginkan oleh para guru. Seperti yang dilakukan UNILA Lampung, Drs. Rudi Ruswandi, Msi, Ketua Jurusan Matematika UNILA, Lampung menyatakan, institusinya telah menyelenggarkan pelatihan jejaring pendidikan nasional (jardiknas) se kota Bandar Lampung yang diikuti oleh 78 kepala sekolah. Para peserta diharapkan dapat mengambil manfaat dan kedepannya dapat melaksanakan program sekolah yang sinergis dengan jardiknas, juga dimaksudkan agar para guru dan kepala sekolah jangan sampai gagap teknologi dan tidak mampu memanfaatkan TIK.

E. Kendala Guru Dalam Penggunaan dan Pemanfaatan TIK
Beberapa kendala yang dihadapi guru dalam pemanfaatan TIK adalah adanya kendala internal, seperti kesibukan jam mengajar di berbagai tempat, maupun kendala eksternal seperti ketersediaan akses internet dan waktu pelatihan sendiri.

Kendala internal dan eksternal tersebut sebenarnya hanyalah sebuah ”pembenaran” untuk tidak melakukan hal-hal yang dibutuhkan. Artinya, berpatokan pada peribahasa ”dimana ada kemauan disitu ada jalan” kita memang harus mempersiapkan diri menyongsong era baru dalam berkomunikasi dengan berbagai informasi yang ada.

Menurut Bona Simanjuntak, Aktivis Jaringan Informasi Sekolah (JIS), di salah satu kecataman di Deli Serdang, internet dan komputer menjadi barang yang terlalu mahal dan langka. Ia dan rekannya telah menggelar training on trainers (TOT) bagi guru-guru di kawasan sekolah kejuruan (SMK), dimana rasio komputer dengan siswa di daerah tersebut mencapai 1:100, artinya satu komputer untuk melayani kebutuhan 100 guru.
Ada guru-guru di Deli Serdang terpaksa mengajar komputer dengan imajinasi dan penjelasan verbal saja, kendala ini disebabkan oleh tidak adanya fasilitas komputer sungguhan untuk digunakan siswa, padahal belajar komputer lebih efektif melalui praktek.

Menurut Drs. Isjoni Ishaq, dekan FKIP UNRI Riau, kendala para guru dalam penggunaan komputer dan TIK adalah ketidakmampuan guru dalam berbahasa inggris, dimana bahasa inggris sangat dominan dipakai dalam pengoperasional komputer dan TIK. Hal ini ditekankan mengingat guru punya andil besar dalam mencerdaskan anak bangsa.

Beberapa siswa di Surabaya mengaku merasa lebih lihai (pandai) dalam hal penggunaan telepon seluler, ini terbukti dalam berbagai rasia yang dilakukan oleh sekolah terhadap gambar porno maupun video porno yang ada di ponsel siswa, ternyata banyak yang lolos, tak terdeteksi, mengingat guru banyak yang tidak pengalaman dalam hal pemakaian ponsel yang canggih daripada siswanya. Mungkin ini disebabkan oleh daya beli guru terhadap model HP lebih rendah dari pada orang tua siswa dalam beberapa kasus. Ini sebenarnya kendala yang yang tidak kentara bagi guru dalam hal pemanfaatan TIK kaitannya dengan penggunaan ponsel oleh siswa.

Menurt Doni B.U., Msi., kini telah ada kesenjangan digital sebagai isu science fiction semata yang diciptkan oleh sekelompok ekslusif manusia pemuja teknologi informasi, atau ada menyebut sebagai digital divide. Menurutnya kesenjangan digital akhirnya hanya dipahami sebagai gap antara pemilik/ pengguna teknologi (the haves) dan mereka yang tidak memiliki atau mengunakan teknologi. Kaum the have diyakini sebagai pihak pertama yang mengada-ada adanya istilah kesenjangan teknologi yang mengkontraskan kelompok kedua. Hal ini bisa menimbulkan rasa pesimistik bagi para guru dalam penggunaan dan pemanfaatan TIK.

Baskoro, dari Lembaga Pendidikan Kolose Kanisius mengatakan bahwa guru kadang dituntut agar cepat beradaptasi dengan misi dan visi institusi yang menurut pemahamannya terlalu berat bagi guru, karena tidak memulai dari tahapan yang tepat dalam peningkatan penguasaan penggunaan TIK bagi guru, sementara tuntutan dan target sekolah ke jenjang nasional, bahkan internasional sebagai hal yang kontradiktif.

Agus Nasihin, pebisnis komputer, mengatakan bahwa sekarang guru dihadapkan peda bayangan bahwa mengunakan komputer dapat mempermudah keperluan hidup, sementara pada sisi lain dimunculkan isu bahwa penggunaan koomputer adalah sebagai apresiasi penghargaan terhadap para genius man yan membuat komputer itu sendiri. Ini kedengaran lucu memang, ada orang mengatakan menggunakan komputer itu identik sebagai bentuk menglarisi produk komputer. Ini gawat, guru bisa pasif dan apatis dalam pemanfaatan TIK.

Masih ada guru yang beranggapan tidak menggunakan komputer dan TIK dalam proses pembelajaran bukan hal mengganggu jalannnya pelajaran, karena guru merasa tidak mendapatkan fasilitas komputer saat mengajar, jadi inilah yang membuat mereka merasa tidak perlu untuk tahu cara menggunakan komputer. Kasus ini terjadi pada guru-guru yang sudah berusia tua, walaupun yang guru yang yunior pun masih ada yang gagap pada kemanjuan TIK.

Menurut Machfud dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (20 April 2008), dilema yang muncul di lapangan, dari berbagai upaya yang telah dilaksanakan untuk membantu para guru mengenala TIK, terganjal di tengah jalan, penyebabnya adalah; 1) takut akan kesalahan yang diperbuat, sehingga dapat mengakibatkan kerusakan media; 2) merasa usianya sudah tua, sehingga kurang bermanfaat bagi dirinya; 3) kurang memahami bahasa teknik TI (bahasa inggris); 4) banyaknya rutinitas di luar pelajaran TIK.

Menurut Gunawan (Jawa Pos, 26 Januari 2008), di lapangan tenaga pendidik hanya banyak disuguhi berbagai diklat, pelatihan dengan materi yang berkisar pada kurikulum, pakem (contextual learning), MBS (manajemen berbasis sekolah) dan materi lain yang berhubungan langsung dengan tugas guru di kelas. Jarang ada pelatihan guru yang bersifat pembekalan tentang suatu ketrampilan atau keahlian khusus, misalnya aplikasi TIK, padahal pelatihan seperti ini tidak kalah penting dan bermanfaat bagi guru, terutama guru yang masih gagap teknologi. Menurutnya ada beberapa faktor yang menjadikan para guru masih gagap TIK, pertama, Lokasi, bagi guru yang mengajar di daerah terpencil, teknologi canggih seperti komputer bukanlah sesuatu yang urgen untuk dikuasai karena kebutuhan untuk menggunakan sangat rendah. kedua, kesadaran yang asih rendah mengenai mengenari ati penting teknologi untuk menunjang profesi guru dalam menyelesaikan tugas, Ketiga, tidak adanya eksempatan dan peluang untuk bisa lebih dekat dengan teknologi canggih.

Menurut TH Aribowo, Guru SMKN 3 Banjarbaru, Kalsel (Radar Banjarmasin. 28 Maret 200 8)faktor penghambat guru dalam memanfaatkan ICT adalah pertama, ketidakadanya komputer baik laptop maupun PC sehingga dirasa masih belum seimbang peralatan yang disediakan di sekolah sementara komputer pribadi belum punya. Kedua, adalah faktor penghampat yang ada hubungannya dengan rasa malas karena tidak adanya waktu untuk mempelajari. Ini terjadi karena guru yang baik dan benar harus menguasai 10 kompetensi guru, waktu 24 jam masih kurang karena banyaknya kewajiban yang hrus dipenuhi.

Link : http://www.sunarnomip.staff.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=13&Itemid=26#CommentForm

Silabus Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Sekolah Dasar

Download Prediksi Soal Ujian Akhir Nasional (UAN) SD di Internet

Artikel singkat ini tentu saja akan berguna bagi para guru Sekolah Dasar (SD) yang sibuk mempersiapkan para siswanya menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Redaksi berkesempatan mengumpulkan link download soal-soal Ujian Akhir Nasional SD dari beberapa sumber, diantaranya dari Lembaga Bimbingan Belajar SSC (Sony Sugema College) dan beberapa sumber yang lain. Berikut ini daftar link download tersebut :

Terima kasih kepada semua pihak yang telah bersusah payah meng-upload file tersebut ke Internet. Semoga bermanfaat!

Belajar Bahasa Inggris Online

With the advance of information and technology, especially internet, the access to study English is open online widely. This is very helpful to develop our English competency. There are many internet sites providing English learning pages, and many of them are free of charges. Some sites that I collected from various sources.

Dengan kemajuan IT sekarang ini, terbuka dengan sangat lebar bagi kita untuk belajar bahasa Inggris secara on-line. Ini sangat membantu kita meningkatkan kemampuan bahasa Inggris kita. Terdapat banyak sekali situs situs yang menyediakan halaman-halaman pembelajaran bahasa Inggris, dan tidak sedikit diantaranya gratis.

silahkan klik link berikut ini :

ESL go Bell English Online English @ home English for Free ENGLISHonline.net Self-Study Quizzes for ESL Students (English Tests) ESL PartyLand–quiz center English Language Quizzes - UsingEnglish.com ESL test: English Grammar Tenses / Esl quiz Super Quiz Machine for ESL Students (English Test) ESL Quizzes,grammar quiz, ESL grammar quiz,Upper Intermediate Irregular Verbs - Spelling Quiz E. L. Easton - English - Exercises, Quizzes, Tests English Grammar for ESL Learners Grammar Activities (Ohio ESL) ESL - English Exercises and Quizzes English Grammar: Present Continuous Tense Quiz EnglishClub.com) English as a Second Language - Tenses Quiz English Language Quizzes - UsingEnglish.com ESL test: English Grammar Tenses / Esl quiz Learn English English Exercises Online! (by Lilliam Hurst) O N L I N E E X E R C I S E S - Grammar English Grammar Exercises Business English Lessons English Exercise - English Exercises E. L. Easton - English - Exercises, Quizzes, Tests

Tenses Quiz From English Page dot com

  1. Verb Tense Exercise 1 Simple Present and Present Continuous
  2. Verb Tense Exercise 2 Simple Present and Present Continuous
  3. Verb Tense Exercise 3 Simple Past and Past Continuous
  4. Verb Tense Exercise 4 Simple Past and Past Continuous
  5. Verb Tense Exercise 5 Simple Past and Present Perfect
  6. Verb Tense Exercise 6 Simple Past and Present Perfect
  7. Verb Tense Exercise 7 Present Perfect and Present Perfect Continuous
  8. Verb Tense Exercise 8 Present Perfect and Present Perfect Continuous
  9. Verb Tense Exercise 9 Present Continuous and Present Perfect Continuous
  10. Verb Tense Exercise 10 Present Continuous and Present Perfect Continuous
  11. Verb Tense Exercise 11 Simple Past and Past Perfect
  12. Verb Tense Exercise 12 Simple Past, Present Perfect, and Past Perfect
  13. Verb Tense Exercise 13 Past Perfect and Past Perfect Continuous
  14. Verb Tense Exercise 14 Present Perfect, Past Perfect, Present Perfect Continuous,
  15. Verb Tense Exercise 15 Tenses with durations
  16. Verb Tense Exercise 16 Present and Past Tenses with Non-Continuous Verbs
  17. Verb Tense Exercise 17 Present and Past Tense Review
  18. Verb Tense Exercise 18 Will and Be Going to
  19. Verb Tense Exercise 19 Will and Be Going to
  20. Verb Tense Exercise 20 Will and Be Going to
  21. Verb Tense Exercise 21 Simple Present and Simple Future
  22. Verb Tense Exercise 22 Simple Present and Simple Future
  23. Verb Tense Exercise 23 Simple Future and Future Continuous
  24. Verb Tense Exercise 24 Simple Present, Simple Future, Present Continuous, and Future Continuous
  25. Verb Tense Exercise 25 Future Perfect and Future Perfect Continuous
  26. Verb Tense Exercise 26 Future Perfect and Future Perfect Continuous
  27. Verb Tense Exercise 27 Future Perfect and Future Perfect Continuous
  28. Verb Tense Exercise 28 Future Perfect and Future Perfect Continuous
  29. Verb Tense Final Test Cumulative Verb Tense Review
  30. Verb Tense Practice Test Cumulative Verb Tense Review
  31. Verb Tense Exercise 1
  32. Verb Tense Exercise 2
  33. Verb Tense Exercise 3
  34. Verb Tense Exercise 4
  35. Verb Tense Exercise 5
  36. Verb Tense Exercise 6
  37. Verb Tense Exercise 7
  38. Verb Tense Exercise 8
  39. Verb Tense Exercise 9
  40. Verb Tense Exercise 10
  41. Verb Tense Exercise 11
  42. Verb Tense Exercise 12
  43. Verb Tense Exercise 13
  44. Verb Tense Exercise 14
  45. Verb Tense Exercise 15
  46. Verb Tense Exercise 16
  47. Verb Tense Exercise 17
  48. Verb Tense Exercise 18
  49. Verb Tense Exercise 19
  50. Verb Tense Exercise 20
  51. Verb Tense Exercise 21
  52. Verb Tense Exercise 22
  53. Verb Tense Exercise 23
  54. Verb Tense Exercise 24
  55. Verb Tense Exercise 25
  56. Verb Tense Exercise 26
  57. Verb Tense Exercise 27
  58. Verb Tense Exercise 28
  59. Verb Tense Final Test
  60. Verb Tense Practice Test

Open Source Popular:

Slackware Linux 12.2
Slackware Linux 12.2
Ubuntu 8.10 Intrepid Ibex
Ubuntu 8.10 Intrepid Ibex
Mandiva Linux 2009.0
Mandiva Linux 2009.0
CentOS 5.2
CentOS 5.2
Gentoo 2008.0R1 'It's got what plants crave'
Gentoo 2008.0R1 'It's got what plants crave'
openSUSE 11.1
openSUSE 11.1
Fedora 10 'Cambridge'
Fedora 10 'Cambridge'
Debian GNU/Linux 4.0 'Etch'
Debian GNU/Linux  4.0 'Etch'
FreeBSD 7.1 Release
FreeBSD 7.1 Release
Sabayon Linux 4r1
Sabayon Linux 4r1
PCLinuxOS 2007 Live/Install-CD
PCLinuxOS 2007 Live/Install-CD
Kubuntu 8.10 Intrepid IBex
Kubuntu 8.10 Intrepid IBex

Most Read Article