Para pengunjung blog yang budiman, masa waktu dua belas bulan dalam tahun 2008 usai sudah telah kita lewati. Tak terasa, kini kita telah memasuki masa waktu yang baru di tahun 2009. Jika kita merenungi masa pada tahun 2008, maka nampak dalam benak kita suatu pertanyaan, prestasi apa yang telah kita capai pada saat itu? idealnya, tentu pertanyaan itu akan timbul kembali pada benak kita, apa pula prestasi yang akan kita raih pada tahun 2009 ini?
Sungguh pertanyaan-pertanyaan itu mengandung nilai-nilai motivasi. Adalah suatu nilai-nilai yang tersirat didalamnya menuju pada sebuah kata kunci “perubahan“. Perubahan ini kita konotasikan dengan kemajuan dalam alam lingkungan kehidupan. Dengan demikian, sasaran akhirnya adalah bagaimana mengisi trend kondisi dinamika yang lagi berkembang. Ini berarti merangsang kita untuk menciptakan suatu gebrakan “selangkah lebih maju“ dalam fenomena kehidupan ini.
Itulah yang mengilhami cara dan gaya berpikir PUSKAPLING dan SDN 1 Tilote yang ada di Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo. Pada tahun ini, tepatnya pada tanggan 12 bulan Januari 2009, PUSKAPLING bersama SDN 1 Tilote telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), tentang Kerja Sama Penerapan Dan Pengembangan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK).
Semangat dan itikad kedua belah pihak ini, membuktikan, bahwa wujud keberadaan PUSKAPLING adalah sebuah cermin LSM yang tidak hanya mahir dalam memainkan kritik terhadap kebijakan yang ada. Namun dihadapan pemerintah, posisi PUSKAPLING disamping sebagai lembaga sosial kontrol kebijakan Pemerintah, sekaligus menjadi bentuk keterwakilan peran masyarakat.
Bentuk keterwakilan itu, adalah suatu keterwakilan yang memiliki kemampuan peran dalam memberikan sentuhan konsep berpikir untuk maju dan berkembang. Dengan demikian, eksistensi PUSKAPLING tidak hanya menjadi lembaga sosial kontrol semata, melainkan sebagai mitra Pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia.
Oleh karena itu, konsep berpikir ini, jelas merupakan relevansi dari sikap menuju suatu perubahan selangkah lebih maju. Yaitu suatu sikap pembentuk prilaku yang respect terhadap trend kondisi dinamika teknologi, informasi, dan komunikasi yang lagi berkembang. Inilah yang mewarnai semangat cara dan gaya berpikir pihak manajemen SDN 1 Tilote.
Manajemen SDN 1 Tilote dalam menyikapi trend kondisi dinamika teknologi, informasi, dan komunikasi yang lagi berkembang itu, telah membuka diri terhadap kehadiran PUSKAPLING. Kehadiran PUSKAPLING bagi SDN 1 Tilote, dipercayakan dan diharapkan dapat menggenjot sumber daya manusia dari para anak didiknya, khususnya dibidang penguasaan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK).
Memperhatikan konsep berpikir dari PUSKAPLING dan prilaku manajemen SDN 1 Tilote yag senantiasa membuka diri itu, dapat disimpulkan inilah model kemitraan yang diharapkan dalam pendidikan. Karena hal itu merupakan nafas dari implementasi Pasal 8, 9, dan 10 sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.
SADIK GANI, SE
Information and Communication Technologi
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), begitulah terjemahan dari INFORMATION and COMMUNICATION TECHNOLOGI (ICT). Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah deretan tiga suku kata yang saat ini lagi akrab dibibir orang, khususnya di lingkungan pendidikan atau kelompok birokrasi, bahkan belakangan ini, juga termasuk golongan-golongan masyarakat tertentu.
Memahami Teknologi informasi dan komunikasi, tidak hanya menyandarkan pada pengertian tiga suku kata di atas. Tetapi lebih dari itu harus dipahami lebih dalam, mengapa tiga suku kata itu harus dipadu menyadi satu kalimat yang tidak dapat dipisahkan dalam pembelajaran TIK. Itu mengartikan, bahwa tiga kata dasar itu, masing-masing memiliki nilai kekuatan dan pengaruh tersendiri dalam peradaban kehidupan manusia.
Sebagai bukti yang logis dari kekuatan-kekuatan itu, yakni disadari atau tidak, bahwa aktivitas yang sedang berlangsung dilakukan manusia saat ini, pada hakikatnya adalah mengelola informasi yang diterima sebelumnya. Disadari atau tidak pula, bahwa keberadaan informasi itu sendiri lahir karena adanya komunikasi. Demikian pula terhadap komunikasi, itu dapat terjadi karena tidak lepas dari media (teknologi) sebagai alat pengantar maksud dan tujuan.
Beranjak dari pengertian-pengertian di atas, maka ICT atau TIK yang menjadi medan garapan ilmu pengetahuan dari ICT CLINIC di SDN 1 Tilote adalah; Teknologi Informasi dan Komunikasi, BUKAN “Informasi Komunikasi dan Teknologi“. Hal ini cukup beralasan, karena informasi komunikasi dan teknologi, pengertiannya adalah informasi tentang komunikasi dan informasi tentang teknologi. Dengan demikian informasi komunikasi dan teknologi, hanyalah terbatas pada pengetahuan saja, dan bukan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sifat dari informasi komunikasi dan teknologi, mudah ditemui atau diperoleh, hanya dengan cukup nonton televisi, dengar radio, maupun baca koran saja.
Sedangkan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah identik dengan ilmu pengetahuan. Yaitu teknologi tentang informasi dan teknologi tentang komunikasi. Karena itu pula, teknologi informasi dan komunikasi tidak terbatas pada pengetahuan saja, tetapi justru berada pada level garapan sebuah studi “ilmu pengetahuan”. Dengan sendirinya, untuk menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi, tidak semudah kita nonton televisi, dengar radio, ataupun baca koran. Melainkan diperoleh hanya melalui teori dan praktek pendidikan tertentu saja.
Pada unsur kata Teknologi, Informasi, Komunikasi inilah, mengapa ICT Clinic harus dihadirkan ditengah-tengah para anak didik sekolah yang ada di SDN 1 Tilote. Dengan TIK ini, para anak didik akan diarahkan pada pengenalan, penguasaan, dan pembentukan peradaban teknologi yang berbudaya.
Pengenalan, penguasaan, dan pembentukan peradaban teknologi pada tingkat anak didik ini, dimaksudkan karena alasan dinamika dunia pendidikan dan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menuju pada suatu jenjang peradaban dunia pendidikan dan kehidupan yang lebih baik, ICT SDN 1 Tilote telah memiliki “TAKTIK”. Artinya; Tidak Ada Kehidupan yang baik (peradaban), tanpa menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, penyair yang banyak menulis puisi kontemporer adalah ….
A. W.S. Rendra B. Ramadhan K.H C. Sutarji Calzoum Bachri D. Putu Wijaya
2. CONTOH SOAL Pemahaman (C 2)Perbedaan prosa, puisi, dan drama dalam kesusastraan Indonesia didasarkan atas….
A. bahasa yang digunakan B. pengembangan plot dan struktur cerita C. perwujudan lahiriah sebuah karya sastra D. banyaknya tokoh dalam cerita
3. CONTOH SOAL Aplikasi (C3)
A. Untuk mendapatkan luas penampang tabung 28,26 cm2, berapakah seharusnya jari-jari tabung tersebut ? a. 2 cm b. 3 cm c. 4 cm d. 5 cm
B. Pak Udin ingin mengetahui keterampilan siswanya dalam menggunakan mikroskop. Untuk kepentingan tersebut pak Udin telah menentukan 7 indikator. Dari 7 indikator tersebut kemudian dibuat 7 buah pertanyaan dalam bentuk skala rating. Setiap pertanyaan mempunyai 5 skala. Jika dari hasil pengukuran Ani memperoleh skor 20, berapa persenkah nilai yang diperoleh Ani ?
a. 20 % b. 25 % c. 57% d. 71,4%
4. CONTOH SOAL Abalisis (C4) Pak Adi menginginkan para siswanya dapat membuat karangan tentang bahaya rekayasa genetika dalam 5000 kata. Jenjang kemampuan berpikir yang ingin dikemabangkan oleh pak Adi adalah …. a. penerapan b. analisis c. sintesis d. evaluasi
5. CONTOH SOAL Sintesis (C5) A. Gambar persamaan Y = kx akan selalu berbentuk …. a. parabola b. lurus c. plantean d. asintosis
B. Hasan mendengarkan dengan tekun ” Acara Pembinaan Bahasa Indonesia ” melalui TV. Sebentar-sebentar ia mencatat, kemudian cepat beralih dan memperhatikan kembali kepada pembicara. Hasan tidak beranjak dari kursinya sebelum acara tersebut selesai. Berdasarkan contoh tersebut, Hasan memiliki unsur-unsur, misalnya, konsentrasi penuh, bertujuan, berminat, siap secara fisik dan mental. Unsur-unsur tersebut termasuk bagian dari … a. pembicara b. pembicaraan c. penyimak d. situasi
6. CONTOH SOAL Evaluasi (C6) A. Suatu pabrik menyatakan bahwa lembaran alumunium yang diproduksi mempunyai tebal 0,04 cm. Setelah diambil sampel secara acak sebanyak 100, diperoleh tebal rata-rata lembaran 0,0408 cm, dengan standar deviasi 0,004 cm. Dari sampel ini dengan = 0,10 dapat diambil kesimpulan bahwa…. a. pertanyaan pabrik ditolak b. pertanyaan pabrik tidak ditolak c. tidak dapat diambil kesimpulan d. jika = 0,20, maka pertanyaan pabrik tidak di tolak
B. ………Satelit cuaca akan memberikan informasi lebih baik kalau…. a. mengorbit tidak jauh dari bumi b. mengorbit paling jauh dari bumi c. menerapkan informasi dengan jangkauan lebih luas d. merupakan satelit geostasioner
Saudara, marilah kita ingat kembali materi yang disajikan dalam iniaiasi pertama, yaitu Prinsip-Prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Salah satu materi itu telah kita bicarakan, yaitu Prinsip Pembelajaran Kontekstual. Pada materi ini prinsip tersebut tidak akan dibicarakan lagi, tetapi hanya prinsip komunikatif. Prinsip komunikatif ini tidak asing lagi bagi guru bahasa Indonesia.
Saudara, pada kesempatan ini kita akan membahas pendekatan komunikatif lebih detail lagi. Pendekatan ini mengajak siswa untuk berlatih berbahasa. Oleh karena itu, materi ini sangat perlu diketahui oleh seorang guru bahasa Indonesia. Jika konsep-konsep ini benar-benar dipahami dan dikuasai, tentu Anda akan dapat menerapkannya dengan baik yang pada gilirannya tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia akan tercapai.. Setelah mempelajari inisiasi 3 ini, diharapkan Saudara memiliki kemampuan memberikan contoh model pendekatan komunikatif dalam pembelajaran keterampilan berbahasa.
Untuk mencapai kompetensi yang diharapkan, maka dalam inisiasi ini Saudara akan disajikan ”Pendekatan Komunikatif” (konsep, ciri, pemilihan materi, kegiatan belajar-mengajar)
Konsep Pendekatan Komunikatif Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Di dalam konsep pendekatan komunikatif terdapat konsep kompetensi komunikatif yang membedakan komponen bahasa menjadi dua bagian, yaitu kompetensi dan performansi atau unjuk kerja.
Kompetensi komunikatif itu adalah keterkaitan dan interelasi antara kompetensi gramatikal atau pengetahuan kaidah-kaidah bahasa dengan kompetensi sosiolinguistik atau atauran-aturan tentang penggunaan bahasa yang sesuai dengan kultur masyarakat. Kompetensi komunikatif hendaknya dibedakan dengan perforemansi komunikatif karena performansi komunikatif mengacu pada realisasi kompetensi kebahasaan beserta interaksinya dalam pemroduksian secara actual.
Kurikulum nasional untuk mata ajar Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Hakikat belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Hakikat belajar sastra adalah memahami manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, hakikat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia ialah peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar secara lisan dan tulis.
Pembelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan kepada para siswa meliputi empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Di antara keempat aspek tersebut dalam makalah ini, penulis hanya memfokuskan pada aspek berbicara. Aspek berbicara ini dipilih karena sangat mendukung terjadinya proses berkomunikasi secara lisan. Dengan belajar berbicara siswa belajar berkomunikasi.
Menurut Nuraeni (2002), “Kemampuan berbicara tidak dinyatakan secara eksplisit dalam kurikulum sekolah menengah pertama, tetapi dinyatakan secara implisit pada tema.” Akibatnya kalau guru kurang benar-benar memberikan perhatian terhadap keterampilan berbicara itu, mungkin akan terabaikan pengajarannya. Kemungkinan guru akan lebih menekankan keterampilan berbahasa tertulis dan mengabaikan keterampilan berbahasa lisan.
Berbicara merupakan suatu proses penyampaian informasi, ide atau gagasan dari pembicara kepada pendengar. Si pembicara berdudukan sebagai komunikator sedangkan pendengar sebagai komunikan. Informasi yang disampaikan secara lisan dapat diterima oleh pendengar apabila pembicara mampu menyampaikannya dengan baik dan benar. Dengan demikian, kemampuan berbicara merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kemahiran seseorang dalam penyampaian informasi secara lisan.
Agar pembicaraan itu mencapai tujuan, pembicara harus memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Hal ini bermakna bahwa pembicara harus memahami betul bagaimana cara berbicara yang efektif sehingga orang lain (pendengar) dapat menangkap informasi yang disampaikan pembicara secara efektif pula.
Untuk dapat menjadi seorang pembicara efektif, tentu dituntut kemampuan menangkap informasi secara kritis dan efektif. Karena dengan memiliki keterampilan menangkap informasi secara efektif dan kritis, pembicara akan memiliki rasa tenggang rasa kepada lawan berbicara (pendengar), sehingga pendengar dapat pula menangkap informasi yang disampaikan pembicara secara efektif.
Berbicara mengenai kemampuan menangkap informasi berarti kita berbicara pula mengenai aktivitas menyimak. Tentu hal tersebut berkenaan dengan kegiatan menyimak tepat guna dan menyimak efektif. Oleh karena itu, para siswa perlu dilatih sejak dini mengenai upaya menyimak tepat guna dan efektif agar kemampuan berbicaranya menjadi efektif pula.
Menurut Nuraeni (2002), “Banyak orang beranggapan berbicara adalah suatu pekerjaan yang mudah dan tidak perlu dipelajari.” Untuk situasi yang tidak resmi barangkali anggapan ini ada benarnya, namun pada situasi resmi pernyataan tersebut tidak berlaku. Kenyataannya tidak semua siswa yang berani dan mau berbicara di depan kelas, sebab mereka umumnya kurang terampil sebagai akibat dari kurangnya latihan berbicara. Untuk itu, guru bahasa Indonesia merasa perlu melatih siswa untuk berbicara. Latihan pertama kali yang perlu dilakukan guru ialah menumbuhkan keberanian siswa untuk berbicara.
Berdasarkan pengalaman empris di lapangan diketahui bahwa kemampuan berbicara siswa dalam proses pembelajaran masih rendah. Hal ini diketahui pada saat siswa menyampaikan pesan/informasi yang bersumber dari media dengan bahasa yang runtut, baik, dan benar. Isi pembicaraan yang disampaikan oleh siswa tersebut kurang jelas. Siswa berbicara tersendat-sendat sehingga isi pembicaraan menjadi tidak jelas. Ada pula di antara siswa yang tidak mau berbicara di depan kelas.
Selain itu, pada saat guru bertanya kepada seluruh siswa, umumnya siswa lama sekali untuk menjawab pertanyaan guru. Beberapa orang siswa ada yang tidak mau menjawab pertanyaan guru karena takut jawabannya itu salah. Apalagi untuk berbicara di depan kelas, para siswa belum menunjukkan keberanian.
Dari latar belakang di atas perlu dicari alternatif lain sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Hal ini mengingat pentingnya pengajaran berbicara sebagai salah satu usaha meningkatkan kemampuan berbahasa lisan di tingkat sekolah menengah pertama, penulis menggunakan teknik pengajaran berbicara yaitu teknik cerita berantai. Dipilihnya teknik cerita berantai ini karena mampu mengajak siswa untuk berbicara.
Dengan teknik ini, siswa termotivasi untuk berbicara di depan kelas. Siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Di samping itu, diharapkan pula agar siswa mempunyai keberanian dalam berkomunikasi.
Menurut Tarigan (1990), “Penerapan teknik cerita berantai ini dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian siswa dalam berbicara. Jika siswa telah menunjukkan keberanian, diharapkan kemampuan berbicaranya menjadi meningkat.”
Teknik cerita berantai bisa dimulai dari seorang siswa yang menerima informasi dari guru, kemudian siswa tadi membisikkan informasi itu kepada teman lain, dan teman yang telah menerima bisikan meneruskannya kepada teman yang lain lagi. Begitulah seterusnya. Pada akhir kegiatan akan dievaluasi, yaitu: siswa yang mana yang menerima informasi yang benar atau salah. Siswa yang salah menerima informasi tentu akan salah pula menyampaikan informasi kepada orang lain. Sebaliknya, bisa saja terjadi informasi yang diterima oleh siswa itu benar tetapi mereka keliru menyampaikannya kepada teman yang lain. Untuk itu, diperlukan pertimbangan yang cukup bijak dari guru untuk menilai keberhasilan teknik cerita berantai ini.
Menurut Nuraeni (2002), “Berbicara adalah proses penyampaian informasi dari pembicara kepada pendengar dengan tujuan terjadi perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan pendengar sebagai akibat dari informasi yang diterimanya.”
Tarigan (1990) berpendapat bahwa teknik cerita berantai adalah salah satu teknik dalam pengajaran berbicara yang menceritakan suatu cerita kepada siswa pertama, kemudian siswa pertama menceritakan kepada siswa kedua, dan seterusnya kemudian cerita tersebut diceritakan kembali lagi kepada siswa yang pertama.
Menurut Tarigan (1990), cerita berantai dapat diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1.Guru menyusun suatu cerita yang dituliskan dalam sehelai kertas.
2.Cerita itu kemudian dibaca dan dihapalkan oleh siswa.
3.Siswa pertama menceritakan cerita tersebut, tanpa melihat teks, kepada siswa kedua.
4.Siswa kedua menceritakan cerita itu kepada siswa ketiga.
5.Siswa ketiga menceritakan kembali cerita itu kepada siswa pertama.
6.Sewaktu siswa ketiga bercerita suaranya direkam.
7.Guru menuliskan isi rekaman siswa ketiga di papan tulis.
8.Hasil rekaman diperbandingkan dengan teks asli cerita.
Untuk menerapkan teknik cerita berantai diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.Guru menyiapkan sehelai kertas yang bertuliskan pesan (kurang lebih satu atau tiga kalimat) yang akan disampaikan kepada siswa.
2.Pesan yang hendak disampaikan guru menyangkut kejadian-kejadian yang cukup menarik dan berarti bagi siswa. Misalnya: cara meningkatkan hasil belajar, penerapan disiplin diri, atau motivasi belajar.
3.Siswa yang duduk di depan menerima pesan dari guru dan meneruskannya kepada siswa yang duduk di sebelahnya. Kegiatan ini dilakukan siswa di depan kelas sambil berdiri.
4.Siswa yang telah menerima pesan meneruskannya kembali kepada siswa lain. Kegiatan ini dilakukan sampai pada tiga orang siswa saja. Kemudian siswa ketiga menceritakan isi cerita kepada siswa pertama.
5.Guru dan siswa membandingkan isi cerita siswa pertama dengan ketiga.
Pembahasan Hasil
Penggunaan teknik cerita berantai ternyata memberikan beberapa manfaat dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa, antara lain:
1.Pembelajaran berlangsung lebih efektif.
2.Keaktifan siswa lebih meningkat.
3.Terjadi interaksi yang positif antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru.
4.Proses pembelajaran berjalan lebih terarah dan lebih menarik.
Di samping manfaat di atas, penerapan teknik cerita berantai menurut hasil temuan di lapangan memiliki beberapa kendala dan hambatan, seperti:
1.Waktu yang tersedia masih kurang mencukupi.
2.Memerlukan kecermatan dalam memberikan penilaian.
3.Kalimat yang panjang lebih dari tiga kalimat masih sulit untuk disimak.
Pembentukan kelompok dalam menerapkan teknik cerita berantai dapat membangkitkan minat dan motivasi siswa untuk berbicara dan sekaligus menyimak bahan pembicaraan. Pada waktu siswa menyimak pesan, tampak siswa saling mengingatkan dengan sesama anggota kelompok. Ini dilakukan agar siswa tidak keliru menyampaikan isi bahan simakan. Fenomena ini membuat siswa harus dapat menyimak dengan teliti, sebab siswa takut sekali akan membuat kesalahan dalam menyampaikan isi bahan simakan pada saat ia disuruh untuk berbicara.
Kegiatan yang dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk menarik perhatian, minat, dan motivasi siswa sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan ketelitian siswa pada waktu akan menyampaikan isi bahan simakan di depan kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Nuraeni, Euis dan Agus Supriatna. 2002. Penataran Tertulis Tipe A untuk Guru-Guru SLTP Jurusan Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.
Tarigan, Djago dan H.G. Tarigan. 1990. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Mengawali tulisan ini, saya ingin memberikan beberapa pemikiran dalam rangka upaya untuk mengembangkan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran. Pokok-pokok pikiran ini merupakan bagian dari visi dan misi sekolah.
Pendidikan merupakan kunci untuk semua kemajuan dan perkembangan yang berkualitas, sebab dengan pendidikan manusia dapat mewujudkan semua potensi dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat. Dalam rangka mewujudkan potensi diri menjadi multiple kompetensi harus melewati proses pendidikan yang diimplementasikan dalam proses pembelajaran.
Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar. Sesungguhnya pembelajaran tidak terbatas pada empat dinding kelas. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan menghapus kejenuhan dan menciptakan peserta didik yang cinta lingkungan.
Berdasarkan teori belajar, melalui pendekatan lingkungan pembelajaran menjadi bermakna. Sikap verbalisme siswa terhadap penguasaan konsep dapat diminimalkan dan pemahaman siswa akan membekas dalam ingatannya.
Buah dari proses pendidikan dan pembelajaran akhirnya akan bermuara pada lingkungan. Manfaat keberhasilan pembelajaran akan terasa manakala apa yang diperoleh dari pembelajaran dapat diaplikasikan dan diimplementasikan dalam realitas kehidupan. Inilah salah satu sisi positif yang melatarbelakangi pembelajaran dengan pendekatan lingkungan.
Model pembelajaran dengan pendekatan lingkungan, bukan merupakan pendekatan pembelajaran yang baru, melainkan sudah dikenal dan populer, hanya saja sering terlupakan. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan lingkungan adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sasaran belajar, sumber belajar, dan sarana belajar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan dan untuk menanamkan sikap cinta lingkungan (Karli dan Yuliaritiningsih, 2002).
Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan sangat efektif diterapkan di sekolah dasar. Hal ini relevan dengan tingkat perkembangan intelektual usia sekolah dasar (7-11 tahun) berada pada tahap operasional konkret (Piaget, dalam Wilis:154). Hal senada dikatakan Margaretha S.Y., (2002) bahwa kecenderungan siswa sekolah dasar yang senang bermain dan bergerak menyebabkan anak-anak lebih menyukai belajar lewat eksplorasi dan penyelidikan di luar ruang kelas.
Konsep-konsep sains dan lingkungan sekitar siswa dapat dengan mudah dikuasai siswa melalui pengamatan pada situasi yang konkret. Dampak positif dari diterapkannya pendekatan lingkungan yaitu siswa dapat terpacu sikap rasa keingintahuannya tentang sesuatu yang ada di lingkungannya. Seandainya kita renungi empat pilar pendidikan yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to be (belajar untuk menjadi jati dirinya), learning to do (Belajar untuk mengerjakan sesuatu) dan learning to life together (belajar untuk bekerja sama) dapat dilaksanakan melalui pembelajaran dengan pendekatan lingkungan yang dikemas sedemikian rupa oleh guru.
Penulis terilhami menuangkan tulisan ini dengan maksud untuk dikembangkan menjadi visi misi sekolah sebagai prioritas untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat menjadi bahan masukan bagi para guru untuk menengok lingkungan sekitar yang penuh arti sebagai sumber belajar dan informasi yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif. Model pendekatan ini pun relevan dengan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), sehingga pada gilirannya dapat mencetak siswa yang cerdas dan cinta lingkungan.
Siswa boleh saja berpikir secara global, tetapi mereka harus bertindak secara lokal. Artinya, setiap orang/siswa perlu belajar apa pun, bahkan mencari hikmah dari berbagai macam pengalaman bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, namun pengetahuan tentang pengalaman bangsa-bangsa lain tersebut dijadikan sebagai pembelajaran dalam tindakan di lingkungan secara lokal. Dengan cara kerja seperti itu, kita tidak perlu melakukan trial and error yang berkepanjangan, melainkan kita belajar dari kesalahan-kesalahan orang lain, sementara kita sekadar meneruskan kerja dari paradigma yang benar.
Bekerja dan belajar yang berbasis lingkungan sekitar memberikan nilai lebih, baik bagi si pembelajar itu sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. Katakanlah belajar ilmu sosial atau belajar ekonomi, maka lingkungan sosial dan ekonomi sekitar dapat menjadi laboratorium alam. Pembelajaran ini dapat dilakukan sembari melakukan pemberdayaan (empowering) terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, sementara si pembelajar dapat melakukan proses pembelajaran dengan lebih baik dan efisien. Mohamad Yunus, penerima Nobel asal Bangladesh adalah orang yang banyak belajar berbasis lingkungan untuk mengembangkan ekonomi. Dengan mendirikan Grameen Bank, dia belajar sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
Dasar Pemikiran
Pembelajaran dilandasi strategi yang berprinsip pada:
1.Berpusat pada peserta didik
2.Mengembangkan kreativitas peserta didik
3.Suasana yang menarik, menyenangkan, dan bermakna
4.Prinsip pembelajaran aktif, Inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM)
5.Mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai dan makna
6.Belajar melalui berbuat, peserta didik aktif berbuat
7.Menekankan pada penggalian, penemuan, dan penciptaan
8.Pembelajaran dalam situasi nyata dan konteks sebenarnya
9.Menggunakan pembelajaran tuntas di sekolah
Pengertian PAIKEM
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggat waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan.
Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa.
Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi.
Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran
Secara garis besar, PAIKEM dapat digambarkan sebagai berikut:
1.Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
2.Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
3.Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
4.Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.
5.Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.
PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan guru yang besesuaian.
Kemampuan Guru
Kegiatan Belajar Mengajar
Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran
Guru melaksanakan KBM dalam kegiatan yang beragam, misalnya:
Percobaan
Diskusi kelompok
Memecahkan masalah
Mencari informasi
Menulis laporan/cerita/puisi
Berkunjung keluar kelas
Guru menggunakan alat bantu dan sumber yang beragam.
Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misalnya:
Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri
Gambar
Studi kasus
Nara sumber
Lingkungan
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan
Siswa:
Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara
Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri
Menarik kesimpulan
Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri.
Menulis laporan hasil karya lain dengan kata-kata sendiri.
Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan
Melalui:
Diskusi
Lebih banyak pertanyaan terbuka
Hasil karya yang merupakan anak sendiri
Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa
·Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)
·Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut.
·Siswa diberi tugas perbaikan atau pengayaan.
Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari.
·Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.
·Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan sehari-hari
Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terus-menerus
·Guru memantau kerja siswa.
·Guru memberikan umpan balik.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengembangan visi dan misi di atas maka dapat penulis simpulkan bahwa pembelajaran PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) salah satu metode pembelajaran berbasis lingkungan. Metode ini mampu melibatkan siswa secara langsung dengan berbagai pengenalan terhadap lingkungan. Dengan demikian selama dalam proses pembelajaran akan mengajak siswa lebih aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bafadal, Ibrahim. 2003. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar: dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Umaedi (1999) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Directorate Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah, Directorate Pendidikan Menengah Umum. Indonesia, Jakarta.
A. Tarmizi Ramadhan, (2008) Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
Ah, the good old days…filled with recess, eating glue, and scribbling with rainbow-colored crayons like only a 6-year-old could.
And while your drawings might not have been masterpieces, you can capture the fun, creatively-named colors of your childhood (or even your child’s childhood) on the web with this list of Crayola Crayon hex code equivalents:
Sort by:
Name
Hex
RGB
Mahogany
CD4A4A
205,74,74
Fuzzy Wuzzy Brown
CC6666
204,102,102
Chestnut
BC5D58
188,93,88
Red Orange
FF5349
255,83,73
Sunset Orange
FD5E53
253,94,83
Bittersweet
FD7C6E
253,124,110
Melon
FDBCB4
253,188,180
Outrageous Orange
FF6E4A
255,110,74
Vivid Tangerine
FFA089
255,160,137
Burnt Sienna
EA7E5D
234,126,93
Brown
B4674D
180,103,77
Sepia
A5694F
165,105,79
Orange
FF7538
255,117,56
Burnt Orange
FF7F49
255,127,73
Copper
DD9475
221,148,117
Mango Tango
FF8243
255,130,67
Atomic Tangerine
FFA474
255,164,116
Beaver
9F8170
159,129,112
Antique Brass
CD9575
205,149,117
Desert Sand
EFCDB8
239,205,184
Raw Sienna
D68A59
214,138,89
Tumbleweed
DEAA88
222,170,136
Tan
FAA76C
250,167,108
Peach
FFCFAB
255,207,171
Macaroni and Cheese
FFBD88
255,189,136
Apricot
FDD9B5
253,217,181
Neon Carrot
FFA343
255,163,67
Almond
EFDBC5
239,219,197
Yellow Orange
FFB653
255,182,83
Gold
E7C697
231,198,151
Shadow
8A795D
138,121,93
Banana Mania
FAE7B5
250,231,181
Sunglow
FFCF48
255,207,72
Goldenrod
FCD975
252,217,117
Dandelion
FDDB6D
253,219,109
Yellow
FCE883
252,232,131
Green Yellow
F0E891
240,232,145
Spring Green
ECEABE
236,234,190
Olive Green
BAB86C
186,184,108
Laser Lemon
FDFC74
253,252,116
Unmellow Yellow
FDFC74
253,252,116
Canary
FFFF99
255,255,153
Yellow Green
C5E384
197,227,132
Inch Worm
B2EC5D
178,236,93
Asparagus
87A96B
135,169,107
Granny Smith Apple
A8E4A0
168,228,160
Electric Lime
1DF914
29,249,20
Screamin Green
76FF7A
118,255,122
Fern
71BC78
113,188,120
Forest Green
6DAE81
109,174,129
Sea Green
9FE2BF
159,226,191
Green
1CAC78
28,172,120
Mountain Meadow
30BA8F
48,186,143
Shamrock
45CEA2
69,206,162
Jungle Green
3BB08F
59,176,143
Caribbean Green
1CD3A2
28,211,162
Tropical Rain Forest
17806D
23,128,109
Pine Green
158078
21,128,120
Robin Egg Blue
1FCECB
31,206,203
Aquamarine
78DBE2
120,219,226
Turquoise Blue
77DDE7
119,221,231
Sky Blue
80DAEB
128,218,235
Outer Space
414A4C
65,74,76
Blue Green
199EBD
25,158,189
Pacific Blue
1CA9C9
28,169,201
Cerulean
1DACD6
29,172,214
Cornflower
9ACEEB
154,206,235
Midnight Blue
1A4876
26,72,118
Navy Blue
1974D2
25,116,210
Denim
2B6CC4
43,108,196
Blue
1F75FE
31,117,254
Periwinkle
C5D0E6
197,208,230
Cadet Blue
B0B7C6
176,183,198
Indigo
5D76CB
93,118,203
Wild Blue Yonder
A2ADD0
162,173,208
Manatee
979AAA
151,154,170
Blue Bell
ADADD6
173,173,214
Blue Violet
7366BD
115,102,189
Purple Heart
7442C8
116,66,200
Royal Purple
7851A9
120,81,169
Purple Mountains’ Majesty
9D81BA
157,129,186
Violet (Purple)
926EAE
146,110,174
Wisteria
CDA4DE
205,164,222
Vivid Violet
8F509D
143,80,157
Fuchsia
C364C5
195,100,197
Shocking Pink
FB7EFD
251,126,253
Pink Flamingo
FC74FD
252,116,253
Plum
8E4585
142,69,133
Hot Magenta
FF1DCE
255,29,206
Purple Pizzazz
FF1DCE
255,29,206
Razzle Dazzle Rose
FF48D0
255,72,208
Orchid
E6A8D7
230,168,215
Red Violet
C0448F
192,68,143
Eggplant
6E5160
110,81,96
Cerise
DD4492
221,68,146
Wild Strawberry
FF43A4
255,67,164
Magenta
F664AF
246,100,175
Lavender
FCB4D5
252,180,213
Cotton Candy
FFBCD9
255,188,217
Violet Red
F75394
247,83,148
Carnation Pink
FFAACC
255,170,204
Razzmatazz
E3256B
227,37,107
Piggy Pink
FDD7E4
253,215,228
Jazzberry Jam
CA3767
202,55,103
Blush
DE5D83
222,93,131
Tickle Me Pink
FC89AC
252,137,172
Pink Sherbet
F780A1
247,128,161
Maroon
C8385A
200,56,90
Red
EE204D
238,32,77
Radical Red
FF496C
255,73,108
Mauvelous
EF98AA
239,152,170
Wild Watermelon
FC6C85
252,108,133
Scarlet
FC2847
252,40,71
Salmon
FF9BAA
255,155,170
Brick Red
CB4154
203,65,84
White
EDEDED
237,237,237
Timberwolf
DBD7D2
219,215,210
Silver
CDC5C2
205,197,194
Gray
95918C
149,145,140
Black
232323
35,35,35
Name
Hex
RGB
Almond
EFDBC5
239,219,197
Antique Brass
CD9575
205,149,117
Apricot
FDD9B5
253,217,181
Aquamarine
78DBE2
120,219,226
Asparagus
87A96B
135,169,107
Atomic Tangerine
FFA474
255,164,116
Banana Mania
FAE7B5
250,231,181
Beaver
9F8170
159,129,112
Bittersweet
FD7C6E
253,124,110
Black
232323
35,35,35
Blue
1F75FE
31,117,254
Blue Bell
ADADD6
173,173,214
Blue Green
199EBD
25,158,189
Blue Violet
7366BD
115,102,189
Blush
DE5D83
222,93,131
Brick Red
CB4154
203,65,84
Brown
B4674D
180,103,77
Burnt Orange
FF7F49
255,127,73
Burnt Sienna
EA7E5D
234,126,93
Cadet Blue
B0B7C6
176,183,198
Canary
FFFF99
255,255,153
Caribbean Green
1CD3A2
28,211,162
Carnation Pink
FFAACC
255,170,204
Cerise
DD4492
221,68,146
Cerulean
1DACD6
29,172,214
Chestnut
BC5D58
188,93,88
Copper
DD9475
221,148,117
Cornflower
9ACEEB
154,206,235
Cotton Candy
FFBCD9
255,188,217
Dandelion
FDDB6D
253,219,109
Denim
2B6CC4
43,108,196
Desert Sand
EFCDB8
239,205,184
Eggplant
6E5160
110,81,96
Electric Lime
1DF914
29,249,20
Fern
71BC78
113,188,120
Forest Green
6DAE81
109,174,129
Fuchsia
C364C5
195,100,197
Fuzzy Wuzzy Brown
CC6666
204,102,102
Gold
E7C697
231,198,151
Goldenrod
FCD975
252,217,117
Granny Smith Apple
A8E4A0
168,228,160
Gray
95918C
149,145,140
Green
1CAC78
28,172,120
Green Yellow
F0E891
240,232,145
Hot Magenta
FF1DCE
255,29,206
Inch Worm
B2EC5D
178,236,93
Indigo
5D76CB
93,118,203
Jazzberry Jam
CA3767
202,55,103
Jungle Green
3BB08F
59,176,143
Laser Lemon
FDFC74
253,252,116
Lavender
FCB4D5
252,180,213
Macaroni and Cheese
FFBD88
255,189,136
Magenta
F664AF
246,100,175
Mahogany
CD4A4A
205,74,74
Manatee
979AAA
151,154,170
Mango Tango
FF8243
255,130,67
Maroon
C8385A
200,56,90
Mauvelous
EF98AA
239,152,170
Melon
FDBCB4
253,188,180
Midnight Blue
1A4876
26,72,118
Mountain Meadow
30BA8F
48,186,143
Navy Blue
1974D2
25,116,210
Neon Carrot
FFA343
255,163,67
Olive Green
BAB86C
186,184,108
Orange
FF7538
255,117,56
Orchid
E6A8D7
230,168,215
Outer Space
414A4C
65,74,76
Outrageous Orange
FF6E4A
255,110,74
Pacific Blue
1CA9C9
28,169,201
Peach
FFCFAB
255,207,171
Periwinkle
C5D0E6
197,208,230
Piggy Pink
FDD7E4
253,215,228
Pine Green
158078
21,128,120
Pink Flamingo
FC74FD
252,116,253
Pink Sherbet
F780A1
247,128,161
Plum
8E4585
142,69,133
Purple Heart
7442C8
116,66,200
Purple Mountains’ Majesty
9D81BA
157,129,186
Purple Pizzazz
FF1DCE
255,29,206
Radical Red
FF496C
255,73,108
Raw Sienna
D68A59
214,138,89
Razzle Dazzle Rose
FF48D0
255,72,208
Razzmatazz
E3256B
227,37,107
Red
EE204D
238,32,77
Red Orange
FF5349
255,83,73
Red Violet
C0448F
192,68,143
Robin Egg Blue
1FCECB
31,206,203
Royal Purple
7851A9
120,81,169
Salmon
FF9BAA
255,155,170
Scarlet
FC2847
252,40,71
Screamin Green
76FF7A
118,255,122
Sea Green
9FE2BF
159,226,191
Sepia
A5694F
165,105,79
Shadow
8A795D
138,121,93
Shamrock
45CEA2
69,206,162
Shocking Pink
FB7EFD
251,126,253
Silver
CDC5C2
205,197,194
Sky Blue
80DAEB
128,218,235
Spring Green
ECEABE
236,234,190
Sunglow
FFCF48
255,207,72
Sunset Orange
FD5E53
253,94,83
Tan
FAA76C
250,167,108
Tickle Me Pink
FC89AC
252,137,172
Timberwolf
DBD7D2
219,215,210
Tropical Rain Forest
17806D
23,128,109
Tumbleweed
DEAA88
222,170,136
Turquoise Blue
77DDE7
119,221,231
Unmellow Yellow
FDFC74
253,252,116
Violet (Purple)
926EAE
146,110,174
Violet Red
F75394
247,83,148
Vivid Tangerine
FFA089
255,160,137
Vivid Violet
8F509D
143,80,157
White
EDEDED
237,237,237
Wild Blue Yonder
A2ADD0
162,173,208
Wild Strawberry
FF43A4
255,67,164
Wild Watermelon
FC6C85
252,108,133
Wisteria
CDA4DE
205,164,222
Yellow
FCE883
252,232,131
Yellow Green
C5E384
197,227,132
Yellow Orange
FFB653
255,182,83
Download all of these crayon colors to ColorSchemer Studio: crayons.cs
About these colors
All of these colors are rough approximations from Crayola’s current list of 120 Crayon Colors. ColorSchemer is not affiliated in any way with Crayola - we just thought it would be fun to see what “Atomic Tangerine” looked like on the web.
Download Prediksi Soal Ujian Akhir Nasional (UAN) SD di Internet
Artikel singkat ini tentu saja akan berguna bagi para guru Sekolah Dasar (SD) yang sibuk mempersiapkan para siswanya menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Redaksi berkesempatan mengumpulkan link download soal-soal Ujian Akhir Nasional SD dari beberapa sumber, diantaranya dari Lembaga Bimbingan Belajar SSC (Sony Sugema College) dan beberapa sumber yang lain. Berikut ini daftar link download tersebut :
Prediksi UAN 2008 Tingkat SD (Matematika, Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam) - Download
Soal TryOut UAN 2008 Tingkat SD - Download Try Out 1 - Download Try Out 2 (untuk mendownload caranya : klik kanan link download, lalu pilih Save Target As)
Terima kasih kepada semua pihak yang telah bersusah payah meng-upload file tersebut ke Internet. Semoga bermanfaat!
Belajar Bahasa Inggris Online
With the advance of information and technology, especially internet, the access to study English is open online widely. This is very helpful to develop our English competency. There are many internet sites providing English learning pages, and many of them are free of charges. Some sites that I collected from various sources.
Dengan kemajuan IT sekarang ini, terbuka dengan sangat lebar bagi kita untuk belajar bahasa Inggris secara on-line. Ini sangat membantu kita meningkatkan kemampuan bahasa Inggris kita. Terdapat banyak sekali situs situs yang menyediakan halaman-halaman pembelajaran bahasa Inggris, dan tidak sedikit diantaranya gratis.